Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (F&B) Indonesia optimistis tetap tumbuh pada 2026 meski menghadapi tekanan biaya produksi, logistik, energi, dan bahan baku. Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) memperkirakan pertumbuhan industri F&B sekitar 7%, didukung oleh kinerja kuartal I yang tumbuh 7,4%.
Menurut Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman, kondisi tiap subsektor berbeda. “Ada yang tumbuh bagus, ada yang tumbuh moderat, dan ada juga yang pertumbuhannya kurang baik,” kata Adhi belum lama ini.
Namun, industri masih menghadapi tantangan berupa tingginya biaya energi, logistik, serta ketersediaan bahan baku yang dapat mempengaruhi daya saing. Pelaku usaha berharap pemerintah terus memperbaiki regulasi dan mendukung efisiensi industri. Selain itu, dukungan pemerintah seperti penurunan harga gas industri dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik dinilai dapat membantu menekan biaya produksi.
Sementara untuk mendorong sektor ini, Panorama Media akan menggelar pameran industri F&B dan gaya hidup bertajuk Cafe Brasserie Expo (CBE) pada 9–11 Oktober 2026. CBE edisi mendatang digelar dengan skala lebih besar setelah pameran sebelumnya sukses menarik 45.910 pengunjung dan menghadirkan 100 brand exhibitor pada 7–10 Mei 2026.
Baca Juga: Industri Mamin Optimistis Tumbuh 7% Meski Dibayangi Tekanan Biaya Produksi
Pameran ini mengusung konsep 3-in-1 Mega Ecosystem yang mengintegrasikan CBE, Franchise & License Expo Indonesia (FLEI) Business Show, dan Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE) dalam satu venue. Konsep ini mempertemukan pelaku industri foodservice, peluang waralaba, serta kebutuhan corporate travel dan outing.
Sebagai fokus utama, CBE menghadirkan tren industri kuliner modern, mulai dari kopi, teh, cokelat, wine, hingga inovasi experiential dining. Sementara itu, FLEI membuka peluang investasi dan kemitraan bisnis, sedangkan IOITE menawarkan solusi perjalanan bisnis dan corporate outing.
Presiden Direktur Panorama Media Royanto Handaya mengatakan CBE mengusung konsep Business-Driven Lifestyle Experience untuk mempertemukan pemilik merek dengan investor dan pengambil keputusan bisnis. Selain menampilkan produk, pameran ini mendorong peluang kerja sama melalui program B2B Matchmaking, serta menghadirkan workshop, talkshow industri, dan demonstrasi dari para ahli.
Baca Juga: Industri Mamin Diproyeksi Tumbuh 7% pada 2026, Dibayangi Tekanan Energi & Logistik
“Integrasi industri F&B, waralaba, dan corporate outing mencerminkan perubahan ekonomi kreatif yang semakin mengedepankan pengalaman dan kolaborasi lintas sektor,” kata Royanto dalam keterangannya, Senin (13/7/2026)
Project Manager pameran Marzuki Herry menyebut kolaborasi tiga pameran ini menjadi networking Bowl yang membuka akses pasar baru dan memperluas peluang bisnis, termasuk ke kawasan berkembang seperti PIK 2.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Kopi Indonesia Dwiki Cahyadi menilai CBE 2026 menjadi momentum bagi industri kopi lokal untuk memperkuat ekosistem bisnis dan memperluas jaringan kemitraan.
“Ajang ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem bisnis kedai kopi modern, sekaligus memperluas jaringan kemitraan demi menjawab tantangan pasar global yang kian kompetitif,” kata Dwiki.
Penyelenggara juga telah membuka pendaftaran booth exhibitor dengan keuntungan bagi peserta awal, seperti prioritas pemilihan lokasi booth dan akses utama ke program business matching.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














