kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.531.000   5.000   0,20%
  • USD/IDR 18.174   15,00   0,08%
  • IDX 5.108   50,58   1,00%
  • KOMPAS100 659   7,58   1,16%
  • LQ45 519   3,92   0,76%
  • ISSI 170   1,06   0,63%
  • IDX30 292   2,01   0,69%
  • IDXHIDIV20 392   0,31   0,08%
  • IDX80 76   0,77   1,02%
  • IDXV30 109   -0,02   -0,02%
  • IDXQ30 98   -0,25   -0,26%

Utilisasi Industri Kaca Meningkat, Ini Penopang Permintaannya


Senin, 02 November 2026 / 14:25 WIB
Utilisasi Industri Kaca Meningkat, Ini Penopang Permintaannya
ILUSTRASI. Kaca Gedung (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri kaca lembaran dan kaca pengaman mencatatkan perbaikan kinerja pada semester I-2026. Kenaikan permintaan domestik, terutama dari sektor properti dan konstruksi, turut mendorong utilisasi kapasitas produksi industri kaca lembaran meningkat dibandingkan akhir tahun lalu.

Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan mengatakan, utilisasi industri kaca lembaran mencapai 74% hingga semester I-2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan utilisasi pada akhir 2025 yang tercatat sebesar 67%.

Dari sisi permintaan, pasar domestik menyerap kaca lembaran sebanyak 559.400 ton hingga semester I-2026. Jumlah tersebut tumbuh 6,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Produsen Alkes (OMED) Raih Penjualan Rp 1,85 Triliun, Laba Naik 31,6% di Kuartal III

Yustinus menyebut, sektor properti dan konstruksi masih menjadi penopang utama permintaan kaca di dalam negeri. Sementara itu, permintaan dari sektor otomotif belum menunjukkan peningkatan signifikan seiring pasar kendaraan bermotor yang belum cukup kuat.

"Permintaan dari properti dan konstruksi menjadi pendorong utama, sedangkan permintaan dari sektor otomotif masih belum naik," ujar Yustinus kepada Kontan, Senin (2/11/2026).

Menurut dia, kontribusi industri otomotif terhadap permintaan kaca saat ini justru cenderung berkurang. Kontribusinya diperkirakan hanya sekitar 20% dari realisasi produksi.

Di sisi lain, industri kaca nasional masih menghadapi persoalan kelebihan pasokan (oversupply). Dengan kapasitas terpasang industri kaca lembaran mencapai 2,9 juta ton per tahun, kelebihan pasokan tercatat sebesar 61,6% dari total kapasitas tersebut.

Kondisi ini membuat pelaku industri perlu mengandalkan pasar ekspor untuk menyerap kelebihan produksi. Namun, upaya tersebut menghadapi tantangan berupa persaingan di pasar global yang semakin ketat, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik.

Yustinus menilai, prospek permintaan kaca hingga akhir 2026 masih cukup baik, baik dari pasar domestik maupun ekspor. Sejak awal semester II-2026, pelaku industri mulai meningkatkan produksi dan penjualan untuk memenuhi permintaan, termasuk pesanan dari pasar ekspor.

Baca Juga: Industri Bangunan dan Properti Dituntut Perkuat Kolaborasi

Optimisme tersebut salah satunya ditopang harapan terhadap implementasi kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT) untuk industri. Pemerintah sebelumnya menjanjikan pemenuhan pasokan gas bumi pipa bagi industri melalui skema HGBT sebesar US$ 7 per MMBTU. Apabila pasokan tidak mencukupi, industri dijanjikan memperoleh tambahan pasokan gas hasil regasifikasi LNG dengan harga US$ 13 per MMBTU.

Namun, Yustinus menyayangkan realisasi pasokan gas oleh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) masih jauh dari komitmen tersebut. Padahal, pelaku industri telah mengambil pesanan ekspor dengan mempertimbangkan kepastian dukungan pasokan energi dari pemerintah.

"Faktor yang paling menentukan ke depan adalah daya saing, terutama implementasi HGBT US$ 7 per MMBTU sepenuhnya tanpa pembatasan oleh PGN, serta implementasi gas regasifikasi LNG US$ 13 per MMBTU tanpa pembatasan," jelasnya.

Selain persoalan energi, pertumbuhan permintaan kaca dari sektor properti juga akan bergantung pada daya beli masyarakat serta percepatan dan penambahan realisasi program pembangunan tiga juta rumah pemerintah.

Yustinus menambahkan, kondisi industri manufaktur Indonesia pada Oktober 2026 juga menunjukkan anomali. Indeks Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia versi S&P mencapai 54,0 atau berada di zona ekspansi. Namun, penciptaan lapangan kerja justru berlangsung tipis dan melambat dibandingkan September 2026.

Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan ekspansi aktivitas manufaktur belum sepenuhnya diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja. Apalagi, industri masih menghadapi kenaikan biaya energi, khususnya gas bumi.

Pelaku industri, kata Yustinus, terpaksa tetap memenuhi komitmen pesanan, terutama dari pasar ekspor, meskipun realisasi kebijakan pasokan gas belum sesuai dengan regulasi dan janji pemerintah.

Ia menegaskan, ketahanan energi serta kepastian ketersediaan dan keterjangkauan harga gas menjadi faktor penting bagi keberlangsungan industri manufaktur nasional. Indonesia sebenarnya memiliki sumber daya gas bumi dan regulasi pendukung, tetapi implementasinya di lapangan masih menjadi persoalan.

Baca Juga: Ekspansi Bisnis Susu, Estika Tata (BEEF) Akuisisi 30 Hektar Peternakan Sapi Sukabumi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
11.11
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×