kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.630.000   -15.000   -0,57%
  • USD/IDR 17.965   52,00   0,29%
  • IDX 5.669   26,20   0,46%
  • KOMPAS100 732   4,13   0,57%
  • LQ45 557   3,79   0,69%
  • ISSI 197   0,36   0,19%
  • IDX30 316   1,45   0,46%
  • IDXHIDIV20 390   0,52   0,13%
  • IDX80 83   0,39   0,47%
  • IDXV30 106   -0,47   -0,44%
  • IDXQ30 102   0,35   0,34%

Wika Bitumen gandeng China bangun pabrik aspal


Senin, 18 Desember 2017 / 19:44 WIB


Reporter: Klaudia Molasiarani | Editor: Dupla Kartini

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wika Bitumen berencana terus membangun pabrik, lantaran pasar aspal Indonesia yang masih cukup potensial. Tak hanya membangun mini plant, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ini juga membentuk usaha patungan alias joint venture dengan perusahaan China untuk membangun pabrik yang lebih besar.

Arifin Fahmi, Direktur Utama Wika Bitumen mengatakan, kebutuhan aspal di Indonesia Timur masih cukup besar, sehingga pembangunan mini plant yang ditargetkan beroperasi pada kuartal I/2018 dinilai belum cukup. Hal inilah yang membuat Wika Bitumen berambisi untuk terus menambah pabrik produksi aspal ekstraksi.

"Kami ada kerja sama dengan investor China membentuk joint venture company," ujar Arifin saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (18/12).

Dia menjelaskan, pabrik tersebut bakal dibangun di atas tanah seluas 3-5 hektare dengan nilai investasi mencapai US$ 16,5 juta. Kapasitas produksi mencapai 60.000-66.000 ton per tahun.

Dalam joint venture tersebut, komposisi penyertaan Wika Bitumen sebesar 25%. Namun begitu, lanjut Arifin, nilai investasi yang dianggarkan oleh perusahaan tidak sebesar itu, lantaran sebagian besar alat sampai proses pemasangan sudah dilakukan oleh pihak China.

"Kami hanya menyuplai terutama untuk bahan baku dan penyediaan tanah serta pemakaian pabrik kecilnya," imbuh Arifin.

Nantinya, seluruh hasil produksi pabrik aspal ekstraksi Wika Bitumen adalah untuk memenuhi pasar Indonesia. Arifin memperkirakan, pada tahun 2018 nanti, komposisi pendapatan yang didapat dari aspal ekstraksi masih menyumbang sekitar 30% terhadap total pendapatan, sementara sisanya masih didominasi produk bahan mentah dan aspal buton berbutir yang diekspor.

Di tahun selanjutnya, komposisi tersebut akan berbalik lantaran mulai beroperasinya pabrik hasil joint venture dengan investor China.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×