kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.853   7,00   0,04%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Lahan industri di Indonesia termahal di ASEAN


Senin, 25 Maret 2013 / 06:07 WIB
Lahan industri di Indonesia termahal di ASEAN
ILUSTRASI. Perayaan Hari Nasional di depan Gedung Kepresidenan di Taipei, Taiwan, Sabtu (10/10/2020). REUTERS/Ann Wang


Reporter: Tendi Mahadi, Ragil Nugroho | Editor: Sandy Baskoro

JAKARTA. Pebisnis di Jakarta makin sulit mencari lahan industri. Kalau pun ada, harganya sudah naik terlalu tinggi. Mengutip data terbaru Japan External Trade Organization, harga rata-rata lahan di kawasan industri di Indonesia pada 2012 mencapai US$ 191 per meter persegi (m2). Harga rata-rata ini berpotensi naik menjadi US$ 200 per m2 di awal tahun ini.

Bahkan di pasaran, sejumlah broker properti menjual kaveling industri jauh lebih tinggi lagi. Misalnya, kaveling seluas 1,2 hektare di Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP), Jakarta Timur, ditawarkan sekitar Rp 6 juta per m2 atau US$ 630 per m2. Bandingkan dengan harga di tahun 2010. Waktu itu, harganya masih sekitar US$ 80 sampai US$ 100 per m2.

Konsultan properti Colliers International bahkan secara spesifik mencatat, harga lahan industri di kawasan Jabodetabek meningkat 27% year-on-year (periode Desember 2011-Desember 2012).

Harga lahan industri Indonesia itu termahal di ASEAN. Di Bangkok Thailand, harga masih US$ 119 per m2. Di Manila Filipina sebesar US$ 52-US$ 102 per m2. Harga lahan industri di Kuala Lumpur Malaysia hanya US$ 20-US$ 25 per m2. Sementara di Singapura sekitar US$ 189-US$ 651 per m2.

Kondisi ini perlu diwaspadai. Sebab, harga lahan industri terlalu tinggi bisa menekan daya saing industri lokal. "Tingkat kompetitif Indonesia bisa disusul beberapa negara lain," tandas Dedy Mulyadi, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, akhir pekan lalu.

Cuma, ibarat lingkaran setan, harga tinggi hanyalah akibat. Problem utamanya adalah permintaan tinggi atas lahan industri tak diimbangi pasokan. Akibatnya, harga tanah melejit. "Ini persoalan supply dan demand," ucap Anton Supit, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Temuan Colliers juga menunjukkan, kenaikan gila-gilaan harga lahan industri mengerem transaksi penjualan lahan industri. Colliers mencatat, tahun 2012, transaksi atas lahan industri mencapai 636,4 ha atau hanya 51% dari total transaksi tahun 2011.

Solusinya tentu menambah lahan. Namun, Ketua Himpunan Kawasan Industri Indonesia, Sanny Iskandar, menilai upaya itu masih terganjal sejumlah aturan, seperti pembatasan perluasan kawasan industri oleh grup pengembang di satu provinsi yang maksimal hanya seluas 400 hektare per tahun. "Aturan ini masih berlaku, padahal sudah tak cocok dengan kondisi saat ini," tuturnya. Idealnya, tiap pengembangan lahan industri baru mencapai skala keekonomian bila menambah lahan 1.000 hektare per tahun.

Kenaikan harga bakal makin kencang setelah aksi relokasi pabrik ke daerah. Belakangan ini, riuh terdengar sejumlah pengusaha merelokasi pabrik dari Jabodetabek ke Jawa Tengah dan Jawa Timur demi menyiasati upah buruh.

Akibatnya, ambil contoh di Jawa Timur, jika rata-rata harga tanah industri di 2010 masih Rp 850.000 per m2, kini sudah Rp 1,75 juta per m2. "Kenaikan harga juga lebih merata," kata Sugeng Rahardjo, Direktur Utama PT Kawasan Industri Gresik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×