Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT ABM Investama Tbk (ABMM) memasang kuda-kuda menghadapi dinamika pasar komoditas tahun 2026. Di tengah ketegangan geopolitik global yang memicu fluktuasi harga, emiten jasa pertambangan ini memilih fokus memperkuat fundamental bisnis sembari memacu diversifikasi.
Direktur ABM Investama, Hans Manoe menjelaskan, strategi perusahaan tahun ini menitikberatkan pada stabilisasi produksi dari aset-aset tambang anyar. Salah satunya adalah optimalisasi tambang di Aceh yang telah mencatatkan penjualan perdana pada Februari 2026, serta memacu operasional tambang di Kalimantan Tengah.
"ABMM akan memprioritaskan stabilisasi dan peningkatan produksi dari aset tambang baru. Tambang di Aceh akan dioptimalkan untuk mencapai produksi bulanan yang konsisten. Sementara itu, tambang di Kalimantan Tengah ditargetkan untuk memulai operasi komersial pada akhir tahun 2026 setelah penyelesaian proses perizinan," ujarnya kepada Kontan.co.id, Kamis (9/4/2026).
Baca Juga: Widodo Makmur (WMPP) Jajaki Kerjasama dengan Perusahaan AS Tyson Foods
Hans tak menampik bahwa industri batu bara nasional masih menghadapi tantangan meski harga sempat menguat di kisaran US$ 130 - US$ 140 per ton akibat gangguan pasokan energi global. Untuk memitigasi tekanan biaya operasional, ABMM menerapkan efisiensi dan disiplin belanja modal (capital expenditure/Capex).
"Menyikapi kondisi tersebut, ABMM mengambil sikap waspada namun tetap optimistis dengan mengedepankan efisiensi operasional yang ketat, disiplin belanja modal, serta strategi preservasi kas. Perusahaan berfokus pada pengamanan volume produksi melalui aset-aset strategis baru untuk memitigasi risiko penurunan harga di masa depan," terangnya.
Selain dari sisi kinerja keuangan, Hans juga menekankan pentingnya aspek keberlanjutan melalui penerapan Good Mining Practices (GMP) di seluruh lokasi kerja.
Lebih lanjut, Hans menegaskan, kepatuhan terhadap standar lingkungan dan tata kelola yang baik menjadi kunci dalam mendukung keberlangsungan operasi.
"Komitmen terhadap keberlanjutan ini tidak hanya memperkuat reputasi perusahaan tetapi juga memastikan operasional yang bertanggung jawab dan berkelanjutan dalam jangka panjang," jelasnya.
Baca Juga: Garap Komoditas Rempah, ID Food Lepas Ekspor Perdana Bunga Pala ke India
Diberitakan sebelumnya, ABMM mencatatkan penurunan pendapatan 13,5% year on year (yoy) menjadi US$ 1,04 miliar pada akhir 2025.
EBITDA yang disesuaikan ABMM juga ikut menyusut 21,2% yoy menjadi US$ 339,4 juta. Begitu pula dengan laba bersih perusahaan yang tergerus 49,3% yoy menjadi US$ 70,6 juta.
Dari sisi operasional, volume pengupasan lapisan penutup (overburden removal) ABMM menurun 12,9% yoy menjadi 235,4 juta bcm pada 2026. Volume pengambilan batubara (coal getting) ABMM juga terkoreksi 12,4% yoy menjadi 34,5 juta ton.
Di lini bisnis perdagangan bahan bakar, ABMM mencatatkan volume penjualan sebanyak 357,4 juta liter pada 2025. ABMM turut mencatat kinerja bisnis logistik yang solid dengan tingkat ketepatan waktu pengiriman sebesar 94,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













