Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.593
  • SUN95,67 0,14%
  • EMAS657.000 -0,45%

Akademisi: Pinjaman ke feedmill, bukti carut-marut produksi jagung

Sabtu, 17 November 2018 / 19:31 WIB

Akademisi: Pinjaman ke feedmill, bukti carut-marut produksi jagung
ILUSTRASI. Jagung pakan ternak

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Klaim adanya surplus jagung hampir 13 juta ton kian meragukan. Kementerian Pertanian nyatanya tidak mampu menghadirkan stok jagung yang cukup untuk para peternak, sebagai pakan. 

Langkah Kementerian Pertanian (Kemtan) memilih meminjam jagung dari 2 perusahaan pakan ternak besar (feedmill), yaitu Charoen Pokphand, dan Japfa, sebanyak 10.000 ton, dinilai sebagai bukti hasil carut marut produksi jagung di dalam negeri. 


Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas menyatakan, peminjaman ini memperlihatkan buruknya tata kelola jagung oleh kementan. "Ini kan terungkap ke publik bagaimana  tata kelola jagung kita kelihatan sekali buruknya. Antara klaim produksi dan kenyataan berbeda jauh sekali. Ketika Kementan bilang  ada surplus 12 juta ton jagung, itu sama saja kita eksportir jagung terbesar se dunia," ujarnya, Jumat (16/11)

Saat ini, kata dia, harga jagung bahkan ada yang mencapai Rp 6000 per kilogram dan sangat memberatkan peternak. "Bulog kan disuruh pemerintah impor jagung 100.000 ton. Nah ini kebutuhan bukan sebulan dua bila  lagi. Tapi saat ini juga. Akhirnya terpaksa pinjam sana sini termasuk ke swasta," tuturnya seraya menambahkan kondisi ini belum akan berakhir meskipun jagung impor sudah tiba. 

Volume 10.000 ton pun sebenarnya bukan jumlah yang besar. Pasalnya, 10.000 ton setara dengan produksi 1 hektare jagung.  Jika jumlah ini saja dilakukan dengan meminjam, maka klaim surplus jutaan ton kian menjadi pertanyaan publik. Ia memprediksi sedikitnya stok jagung akan terjadi sampai Februari 2019 mendatang. 

"Jadi ini awal masalahnya adalah pada 2016 ketika Kementan mengeluarkan kebijakan pembatasan impor jagung dan kemudian melonjak impor gandum. Itu kalau ditotal-total kita malah rugi. Karena gandum pakan lebih mahal dari jagung, dan di Indonesia tidak bisa kita tanam gandum," tuturnya.

Lebih parahnya, lanjut dia, impor gandum untuk pakan dibatasi juga oleh Kementan. Ihwal peminjaman ini sendiri dikatakan oleh Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak (Dirbitpro) Kementan, Sugiono. 

Ia mengungkapkan, pinjaman masing-masing sebanyak 5 ribu ton kepada tiap feedmill tersebut dikarenakan memang sudah ada kekurangan jagung di lapangan. Sementara itu, impor jagung yang direkomendasikan Kementan membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke Tanah Air. 

"Ini kan tetap ayam kudu makan jagung, nggak bisa menunggu. Jadi, kita meminjam dulu. Di lapangan memang tidak mencukupi jadi melakukan peminjaman dulu ya," ungkapnya kepada wartawan, Kamis (15/11). 

Nantinya pinjaman dari kedua feedmill tersebut akan diserakan kepada Bulog. Badan logistrik tersebutlah yang nantinya akan menyalurkan jagung-jagung tersebut kepada para peternak yang membutuhkan jagung dengan harga Rp 4.000 per kilogram. 

Pinjaman tersebut pun akan segera dikembalikan ketika impor jagung sebanyak 100.000 ton tiba. "Tapi ini khusus untuk peternak kecil, peternak mandiri, yang UMKM itu," imbuhnya lagi. 

Sugiono melanjutkan, sebenarnya bukan hanya kepada Charoen Pokphand dan Japfa pihaknya meminta bantuan. Semua feedmill sudah diminta dan memang sebelumnya juga sudah melakukan CSR untuk membagikan jagung kepada peternak mandiri. 

Hanya saja untuk saat ini, cuma Charoen Pokphand dan Japfa yang menyanggupi permintaan Kementan. Jumlahnya pun hanya 10.000 ton sesuai dengan kemampuan stok mereka. 

Padahal, sebelumnya, Kementerian Pertanian kerap optimistis bahwa Indonesia mengalami surplus jagung hingga 13 juta ton pada 2018 ini. 

Ada pun soal naiknya harga jagung, Kementerian malah menuding ini disebabkan pasokan jagung di Indonesia kebanyan dikuasai oleh perusahaan pabrik pakan besar (feed mill). Perkiraannya 70% jagung petani langsung diijon pleh feedmill sehingga menyebabkan harga jagung melambung.

"Kalau Anda ke lapangan jagung itu sudah dipanjar (sudah dibeli dulu oleh feedmill), itu nyata," ungkap Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, beberapa waktu lalu.

Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Bambang Sugiharto juga bersikukuh produksi jagung dalam negeri tahun ini melebihi kebutuhan sehingga surplus. Pihak yang mengatakan tidak surplus berarti tidak paham hitungan.

Sebaliknya, Ketua Presidium Peternak Layer Nasional Ki Musbar dan Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit mengatakan, tuduhan Kementan yang mengambinghitamkan feedmil sebagai penyebab tingginya harga jagung adalah mengada-ada. 

Keduanya tidak ada mekanisme panjar atau dibeli lebih dulu oleh pengusaha pakan. Dan, gudang-gudang feedmill tidak cukup besar untuk bisa menampung produksi jagung yang mencapai hampir 30 juta dalam setahun ini. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari sampai Oktober, juga menegaskan adanya impor jagung. Termasuk dalam hal ini untuk keperluan bahan baku industri makanan dan minuman, tercatat sebesar 502.800 ton dengan nilai sebesar US$110 juta.

Impor jagung untuk pakan ternak juga ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution sebesar 100.000 ton per 2 November silam atas rekomendasi 

Reporter: Dikky Setiawan
Editor: Yoyok

Video Pilihan

Tag
TERBARU
Seleksi CPNS 2018
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0007 || diagnostic_api_kanan = 0.0717 || diagnostic_web = 7.8132

Close [X]
×