kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.088   -22,00   -0,12%
  • IDX 6.042   2,45   0,04%
  • KOMPAS100 790   1,48   0,19%
  • LQ45 600   1,02   0,17%
  • ISSI 210   -0,03   -0,02%
  • IDX30 339   0,09   0,03%
  • IDXHIDIV20 422   0,59   0,14%
  • IDX80 90   0,11   0,12%
  • IDXV30 115   -0,13   -0,11%
  • IDXQ30 109   0,09   0,08%

Akhir cerita pembangkit listrik fosil yang sudah uzur


Rabu, 25 November 2020 / 18:48 WIB
ILUSTRASI. Pemerintah mulai menghentikan penambahan kapasitas dari pembangkit fosil seperti PLTD dan PLTU.


Reporter: Filemon Agung | Editor: Khomarul Hidayat

Ikhsan melanjutkan, konversi ini juga bakal berdampak positif bagi masyarakat pasalnya penggunaan PLTD di sejumlah daerah dinilai baru bisa menghadirkan ketersediaan listrik untuk kurun 6 jam hingga 12 jam.

"Ini membuat ekonomi masyarakat tumbuh seperti pariwisata, perikanan dan lainnya. Ini jadi prioritas kami," jelas Ikhsan.

Sebagai tahapan awal, konversi PLTD akan dilakukan di 200 lokasi dengan total kapasitas mencapai 225 MW. Selanjutnya, pada tahap kedua konversi PLTD mencapai 500 MW dan tahap ketiga sebesar 1.300 MW.

Adapun, PLTD yang bakal dikonversi terlebih dahulu yakni yang telah berusia di atas 15 tahun dan berada di lokasi terpencil yang belum optimal sistem gridnya dan memiliki BPP listrik tinggi.

Baca Juga: Ini usulan PLN perihal pembahasan RUU EBT

Selain PLTD, kajian terhadap PLTU pun turut dilakukan. Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Jisman Hutajulu menjelaskan, salah satu opsi yang dikaji yakni mengganti PLTU yang telah berusia 20 hingga 25 tahun dengan pembangkit RBT.

"Harga EBT sudah cenderung turun. jadi kita berharap EBT yang masuk sistem tidak membebani biaya pokok penyediaan (BPP) PLN, caranya di-replace dengan PLTS karena minim perawatan dan pembangunan cepat," kata Jisman dalam EBTKE ConEx 2020 virtual, Selasa (24/11).

Jisman melanjutkan, opsi kedua yang dikaji yakni dengan mempertahankan PLTU namun dengan melakukan substitusi energi primer pembangkit dengan biomassa alias cofiring.

Menurutnya, ujicoba telah dilakukan dengan substitusi 30%-35% energi primer dari biomassa dan tidak menemui kendala pada pembangkit.

Jisman melanjutkan, ke depannya tekanan pada PLTU akan semakin tinggi dan berdampak pada pendanaan yang sulit diperoleh.

Sekedar informasi, tercatat ada 2.246 unit PLTD dengan total kapasitas mencapai 1,78 GigaWatt (GW) yang tersebar di 29 provinsi dan 23 unit PLTU yang tersebar di 7 provinsi dengan total kapasitas terpasang sebesar 5.655 MW yang direncanakan akan mengalami konversi.

Baca Juga: Indonesia dan Denmark perkuat kerja sama di sektor energi terbarukan




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×