kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.870   -65,00   -0,36%
  • IDX 5.821   -75,34   -1,28%
  • KOMPAS100 752   -12,33   -1,61%
  • LQ45 573   -10,72   -1,84%
  • ISSI 201   -1,70   -0,84%
  • IDX30 325   -6,09   -1,84%
  • IDXHIDIV20 401   -6,69   -1,64%
  • IDX80 86   -1,38   -1,59%
  • IDXV30 108   -1,25   -1,14%
  • IDXQ30 105   -1,88   -1,76%

Anggaran Kurang Terserap karena Industri Belum Siap


Rabu, 24 Maret 2010 / 16:15 WIB


Reporter: Herlina KD | Editor: Test Test

JAKARTA. Upaya meningkatkan daya saing industri alas kaki dan kulit, pemerintah pada tahun ini mengucurkan dana rekstrukturisasi mesin industri untuk sektor alas kaki dan kulit sebesar Rp 34,25 miliar. Dari dana itu, industri alas kaki berharap bisa menyerap sekitar 80% atau sebesar Rp 27,4 miliar.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Asprisindo) Eddy widjanarko mengungkapkan program yang berlangsung sejak 2009 lalu itu sebenarnya berdampak positif bagi kalangan industri alas kaki nasional. Namun, karena kurangnya sosialisasi dan industri yang belum siap memanfaatkan program restrukturisasi ini, tahun lalu penyerapan dana restrukturisasi masih minim.

Sebagai catatan, dari anggaran yang pemerintah alokasikan sebesar Rp 52, 5 miliar untuk resktrukturisasi mesin industri alas kaki dan kulit, pengusaha hanya mampu menyerap Rp 13,6 miliar atau sekitar 25,9% saja. "Dari jumlah itu, hanya industri alas kaki yang memanfaatkan," ujar Eddy, Rabu (24/3).

Eddy menambahkan, minimnya penyerapan dana restrukturisasi mesin tahun lalu juga disebabkan karena dampak krisis ekonomi tahun 2008 lalu. "Sehingga pengusaha masih ragu-ragu untuk melakukan investasi baru," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×