kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   -260.000   -8,33%
  • USD/IDR 16.805   19,00   0,11%
  • IDX 8.330   97,40   1,18%
  • KOMPAS100 1.165   25,83   2,27%
  • LQ45 834   20,52   2,52%
  • ISSI 298   2,18   0,74%
  • IDX30 430   8,24   1,96%
  • IDXHIDIV20 510   9,16   1,83%
  • IDX80 129   2,93   2,32%
  • IDXV30 139   2,61   1,92%
  • IDXQ30 139   3,06   2,26%

Antisipasi Lonjakan Arus Petikemas, SPTP Susun Roadmap Infrastruktur 2026–2030


Rabu, 17 Desember 2025 / 12:47 WIB
Antisipasi Lonjakan Arus Petikemas, SPTP Susun Roadmap Infrastruktur 2026–2030
ILUSTRASI. Kapal pengangkut petikemas (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) menyiapkan langkah strategis jangka menengah dan panjang melalui penyusunan roadmap pengembangan peralatan dan infrastruktur terminal petikemas periode 2026–2030.

Roadmap ini disusun untuk mengantisipasi pertumbuhan arus petikemas nasional sekaligus memperkuat daya saing terminal petikemas Indonesia.

Corporate Secretary SPTP Widyaswendra menyampaikan bahwa roadmap tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung penurunan ongkos logistik nasional melalui peningkatan efisiensi layanan kepelabuhanan dan penguatan ekosistem logistik, khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Baca Juga: Sah! Hans Patuwo Resmi Nahkodai GOTO, Gantikan Patrick Walujo

“Kami bersyukur dapat mendukung kegiatan ini dan berterima kasih atas peran Forum Wartawan Maritim Indonesia (Forwami) dalam menyampaikan informasi yang konstruktif terkait upaya peningkatan efisiensi logistik, sejalan dengan peran dan tanggung jawab SPTP,” ujarnya dalam kegiatan Media Gathering & Lunch Talk Forwami bersama manajemen SPTP di Jakarta, Rabu (17/12/2025).

Sebagai pengelola terminal petikemas nasional, SPTP menegaskan komitmennya mendukung kebijakan pemerintah dalam menekan biaya logistik melalui peningkatan kinerja terminal dan standarisasi layanan di seluruh wilayah operasional.

Widyaswendra menyoroti masih adanya ketimpangan muatan antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur.

Menurutnya, arus barang dari wilayah barat ke timur umumnya penuh, namun tingkat keterisian kapal saat kembali hanya sekitar 30%.

“Ketidakseimbangan ini berdampak langsung pada tingginya ongkos logistik,” jelasnya.

Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil: Sawit Papua Bisa Jadi Penopang Program B50

Ia menilai terdapat tiga kunci utama untuk menurunkan ongkos logistik di Indonesia Timur, yakni peningkatan konsumsi masyarakat, pertumbuhan arus ekspor-impor, serta masuknya investasi yang berkelanjutan.

“Jika tingkat keterisian muatan meningkat, ongkos logistik akan turun secara alami,” katanya.

Sebagai langkah konkret, SPTP terus memperkuat kapasitas dan kinerja terminal. Salah satunya tercermin dari kinerja Terminal Petikemas Semarang (TPKS) yang pada akhir 2025 berpotensi mencatatkan throughput 1 juta TEUs untuk pertama kalinya.

Pencapaian ini didukung penguatan infrastruktur, modernisasi peralatan, pengembangan sistem operasi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.

“Upaya tersebut terbukti efektif ketika Jawa Tengah menjadi salah satu tujuan utama investasi yang membutuhkan dukungan pelabuhan yang andal untuk kegiatan ekspor dan impor,” ujar Widyaswendra.

Baca Juga: ManageEngine Perluas CloudSpend untuk Garap Pasar MSP dan Perusahaan Multi-Tenant


Tag


TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×