Reporter: TribunNews | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keterlambatan sandar dan bongkar muat kapal kembali menjadi sorotan seiring melonjaknya arus logistik pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Di sejumlah pelabuhan, kapal harus menunggu hingga enam hari untuk bisa sandar dan membongkar muatan, jauh lebih lama dari kondisi normal.
Salah satu penyebab yang disorot pelaku usaha adalah terbatasnya kesiapan peralatan bongkar muat. Kondisi ini dinilai menekan produktivitas terminal dan berdampak langsung pada kelancaran distribusi barang.
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jawa Timur, Sebastian Wibisono, menyebut waktu tunggu kapal di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya membengkak. Jika sebelumnya proses sandar dan bongkar muat maksimal tiga hari, kini bisa mencapai enam hari.
Baca Juga: Bongkar Muat Kargo dan Kunjungan Kapal ke Dermaga IPCC Naik, Ini Pendongkraknya
“Beberapa kapal menunggu lebih lama karena alat bongkar muat sudah tua,” ujarnya.
Menurut Sebastian, keterbatasan alat membuat kemampuan penanganan kontainer turun drastis. Idealnya, satu area pemrosesan mampu menangani 30–40 kontainer per jam, namun saat ini hanya sekitar 10 kontainer. Akibatnya, terjadi kekurangan kontainer kosong (shortage) di sejumlah pelabuhan.
Dampak lanjutan pun tak terhindarkan. Jadwal pengiriman barang molor, termasuk pengiriman bahan baku industri. Sebastian mencontohkan pengiriman pupuk ke Sampit yang sempat tertahan sejak Desember karena sulitnya mendapatkan kontainer kosong.
“Biasanya bisa dapat 20–40 kontainer per hari, sekarang hanya sekitar 10,” katanya.
Kondisi serupa juga diungkapkan Ketua DPC Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya, Steven H. Lesawengen. Ia menyebut keterlambatan bongkar muat juga terjadi di terminal lain di Tanjung Perak karena kesiapan alat yang belum optimal.
Baca Juga: Aktivitas Bongkar Muat Kargo Kendaraan IPCC Meningkat 12,28% per Juli 2025
Di sisi lain, pengelola terminal memberikan penjelasan berbeda. Manajemen TPK Nilam Tanjung Perak membantah adanya kerusakan alat bongkar muat.
Sementara itu, perwakilan Terminal Petikemas Semarang (TPKS), Komang, menilai keterlambatan masih dalam batas wajar dan dipengaruhi faktor eksternal, terutama cuaca.
“Kondisi cuaca yang tidak menentu dan lonjakan trafik di Desember–Januari membuat pelayanan terhambat,” ujarnya.
Komang mengakui terjadi peningkatan signifikan aktivitas kapal dan bongkar muat pada periode tersebut, seiring tingginya distribusi barang akhir dan awal tahun. Untuk mengantisipasi dampak berulang, TPKS menyiapkan sejumlah langkah, antara lain penambahan empat unit container crane, perpanjangan dermaga 275 meter, serta perluasan area penumpukan.
Baca Juga: Pemerintah Didesak Benahi Kesejahteraan Buruh Bongkar Muat
Langkah ini diharapkan mampu mempercepat waktu tunggu kapal, melancarkan pasokan kontainer, dan menekan biaya operasional pelayaran.
Sebastian menegaskan, kualitas layanan pelabuhan sangat menentukan efisiensi logistik nasional. “Jika layanan pelabuhan buruk, biaya logistik naik dan harga barang ke konsumen ikut terdorong,” katanya.
Sumber: https://www.tribunnews.com/bisnis/7785500/waktu-sandar-kapal-di-pelabuhan-membengkak-pengusaha-keluhkan-biaya-logistik-kian-mahal?page=all&s=paging_new.
Selanjutnya: Indonesia Imports 1,300 Cows From Australia in Ambitious Dairy Plan
Menarik Dibaca: Belanja Hemat di Promo Tokopedia 2.2, Ada Gratis Ongkir & Diskon hingga Rp 1,2 Juta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













