kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,80   0,58   0.07%
  • EMAS1.028.000 0,19%
  • RD.SAHAM 0.38%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Argha Karya Prima Industry (AKPI) kejar penjualan Rp 2,30 triliun tahun ini


Senin, 13 Juli 2020 / 17:57 WIB
Argha Karya Prima Industry (AKPI) kejar penjualan Rp 2,30 triliun tahun ini
ILUSTRASI. Argha Karya Prima Industry (AKPI) menargetkan penjualan bisa mencapai Rp 2,30 triliun di tahun ini

Reporter: Muhammad Julian | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Argha Karya Prima Industry Tbk optimistis mampu menjaga kelangsungan kinerja di tengah pandemi corona (covid-19). Hingga tutup tahun nanti, emiten berkode saham AKPI ini menargetkan penjualan sebesar Rp 2,30 triliun atau naik tipis 2,17% dibandingkan realisasi penjualan neto di sepanjang tahun 2019 lalu.

Direktur AKPI Jimmy Tjahjanto mengatakan, sektor makanan dan minuman (mamin) yang selama ini menyerap produk-produk kemasan fleksibel perusahaan masih menunjukkan permintaan yang stabil meski di tengah pandemi. Hal inilah yang kemudian mendasari sikap optimistis AKPI untuk mencatatkan pertumbuhan penjualan mini tahun ini.

“Sejauh ini (permintaan kemasan fleksibel) sektor tersebut belum mengalami penurunan,” kata Jimmy kepada Kontan.co.id, Jumat (10/7).

Diakui Jimmy, kinerja penjualan AKPI memang sempat mengalami penurunan di tiga bulan pertama tahun ini. Mengintip laporan keuangan, penjualan neto AKPI turun 3,07% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari semula Rp 590,37 miliar di kuartal I 2019 menjadi Rp 572,24 miliar di kuartal I 2020. Namun, Jimmy menilai hal tersebut lebih disebabkan penurunan harga jual produk yang terjadi kalau itu, alih-alih penurunan volume permintaan akibat corona.

Baca Juga: Gaya hidup berubah, permintaan bahan makanan di masa PSBB meningkat

Kendati demikian, Jimmy tidak menampik, efek gulir pagebluk corona bisa saja berdampak pada kinerja penjualan perusahaan apabila pandemi terus berlanjut. Pasalnya, wabah pandemi yang berlarut-larut akan akan menekan daya beli masyarakat yang selama ini mengkonsumsi produk-produk makanan dan minuman, sementara penurunan permintaan produk-produk makanan dan minuman akan berdampak pada berkurangnya permintaan produk kemasan fleksibel dari industri mamin.

Untuk mengantisipasi kemungkinan turunnya permintaan, AKPI bakal meningkatkan penjualan produk permium yang memiliki marjin lebih tinggi serta menggenjot penjualan di pasar ekspor. Upaya untuk menggenjot penjualan ekspor dilakukan baik dengan cara menambah pelanggan baru di negara tujuan ekspor eksisting maupun dengan merambah ke negara-negara tujuan ekspor baru lainnya.

Sedikit  informasi, sebelumnya AKPI telah menjual produknya ke beberapa negara di wilayah Asia non Timur Tengah, Amerika, Afrika, Timur Tengah, Eropa, serta Australia dan Selandia Baru.

Sepanjang Januari - Maret 2020 lalu, penjualan ekspor AKPI ke wilayah-wilayah ini tercatat sebesar Rp 178,44 miliar atau setara dengan 31,18% dari total penjualan neto AKPI di tiga bulan pertama tahun ini. Dalam realisasi tersebut, penjualan ekspor ke wilayah Asia di luar wilayah Timur Tengah mendominasi penjualan ekspor AKPI dengan penjualan ekspor senilai Rp 100 miliar atau setara dengan 56,03% dari total penjualan ekspor.

Jimmy bilang, negara tujuan ekspor baru yang ingin dibidik masih berada di wilayah Eropa, Amerika, dan beberapa negara lainnya. Namun, ia tidak merinci negara-negara mana saja yang secara spesifik ia maksud. “Saat ini masih terus dijajaki,” ujar Jimmy.

Untuk menunjang kinerja, AKPI mengalokasikan belanja modal atawa capital expenditure sebesar Rp 20 miliar - Rp 25 miliar dari kas internal dan pinjaman dari perbankan. Rencananya, capex yang dianggarkan akan digunakan untuk membiayai perbaikan dan perawatan mesin-mesin produksi.

Sebagai informasi, saat ini AKPI memiliki kapasitas produksi terpasang sekitar 122.500 ton per tahun. Kapasitas ini diperkirakan akan naik 30% di tahun 2021 setelah lini produksi baru produk kemasan berupa plastik film jenis BOPP (Biaxially Oriented Polypropylene) selesai dibangun dan beroperasi pada tahun 2021 mendatang.

Saat ini, proses pembangunan lini produksi BOPP baru tersebut tengah berlangsung. Agenda ekspansi tersebut diperkirakan akan memakan total nilai investasi sebesar US$ 30 juta. Biaya investasi tersebut, menurut Jimmy, menggunakan anggaran yang berbeda dengan anggaran regular capex senilai Rp 20 miliar - Rp 25 miliar yang ditetapkan untuk tahun ini.

Baca Juga: Investasi manufaktur di triwulan I 2020 tumbuh, ini penjelasan Kadin

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×