Reporter: TribunNews | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi dinilai sebagai langkah sulit namun tak terhindarkan di tengah tekanan krisis energi global.
Pengamat energi menilai kebijakan ini dirancang untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus melindungi masyarakat berpenghasilan rendah dari dampak langsung lonjakan harga.
Pengamat energi dan migas Hadi Ismoyo menjelaskan, pemerintah telah mengambil keputusan terukur dengan menyesuaikan harga BBM non-subsidi, yang utamanya dikonsumsi oleh kelompok masyarakat menengah ke atas.
Baca Juga: Harga BBM Non-Subsidi Naik per 1 Desember 2025, Ini Daftar Lengkap Terbarunya
Ia menilai kelompok ini memiliki daya beli yang cukup kuat untuk menyerap kenaikan harga.
Seperti diketahui, PT Pertamina (Persero) per 18 April 2026 resmi menaikkan harga sejumlah BBM non-subsidi.
Pertamax Turbo kini dijual Rp19.400 per liter, sementara Dexlite dan Pertamina Dex masing-masing menjadi Rp23.600 dan Rp23.900 per liter.
Menurut Hadi, kebijakan ini tidak menyasar mayoritas masyarakat karena konsumsi BBM jenis premium tersebut tidak mencapai 10% dari total pengguna BBM di Indonesia.
Artinya, dampaknya relatif terbatas dan tidak langsung membebani kelompok masyarakat bawah yang sebagian besar masih menggunakan BBM bersubsidi.
Baca Juga: Tahan Harga Pertamax Redam Dampak Lonjakan BBM Non Subsidi? Ini Kata DPR Hingga YLKI
“Kelompok pengguna BBM ini memiliki daya beli yang memadai untuk menyerap penyesuaian harga,” tegas Hadi.
Ia menambahkan, keputusan pemerintah telah melalui kajian mendalam dengan fokus utama menjaga kelompok rentan tetap terlindungi dari gejolak harga energi global.
Pemerintah, kata dia, berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan menjaga stabilitas pasokan energi dan perlindungan sosial.
Di sisi lain, langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi juga dilakukan melalui diversifikasi pasokan, termasuk menjajaki sumber energi baru dari Rusia.
Upaya ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan domestik, terutama di tengah meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Sebagai langkah jangka panjang, Hadi mendorong percepatan efisiensi energi dan konversi penggunaan BBM ke energi alternatif.
Baca Juga: Bahlil: Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi Masih dalam Perhitungan dengan Badan Usaha
Ia mengajak masyarakat untuk mendukung penghematan energi serta beralih ke listrik atau gas, baik untuk kendaraan maupun kebutuhan rumah tangga.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat dalam distribusi BBM dan LPG subsidi agar tepat sasaran.
Dengan kombinasi kebijakan harga, penguatan pasokan, dan efisiensi konsumsi, pemerintah diharapkan mampu menjaga ketahanan energi nasional di tengah tekanan global yang kian meningkat.
Sumber: https://www.tribunnews.com/nasional/7818722/yang-perlu-dipahami-tentang-kenaikan-bbm-non-subsidi-menurut-pengamat-energi-dan-migas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













