Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menyiapkan sejumlah langkah taktis untuk meredam dampak kenaikan harga avtur akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Langkah ini diambil guna menjaga ketahanan operasional dan stabilitas kinerja keuangan maskapai pelat merah tersebut di tengah ketidakpastian global.
Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Oentoro mengungkapkan, perusahaan kini fokus pada efisiensi biaya operasional dan optimalisasi pengelolaan bahan bakar.
"Langkah-langkah tersebut mencakup optimalisasi pengelolaan bahan bakar serta efisiensi biaya operasional, sebagai upaya menjaga keseimbangan terhadap potensi tekanan kinerja akibat kenaikan harga avtur," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima Kontan.co.id, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga: BPKH Jaga Dana Haji Tetap Berkelanjutan di Tengah Risiko Pembengkakan Biaya
Manajemen GIAA berupaya memastikan struktur biaya tetap resilien dengan tetap memperhatikan aspek likuiditas. Thomas menekankan, evaluasi atas berbagai opsi mitigasi dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan respons perusahaan tetap prudent dan adaptif terhadap dinamika industri penerbangan yang berkembang saat ini.
Lebih lanjut, Thomas menjelaskan, pengendalian biaya penting, mengingat karakteristik biaya bahan bakar merupakan salah satu komponen pengeluaran terbesar dalam struktur biaya operasional penerbangan. Untuk itu, manajemen terus melakukan evaluasi lanjutan guna mengoptimalkan posisi arus kas perusahaan secara berkesinambungan.
Garuda Indonesia, kata Thomas, berkomitmen menjalankan pengelolaan biaya secara disiplin melalui pendekatan yang terukur. Di sisi lain, konsolidasi internal terus diperkuat.
"Manajemen memperkuat konsolidasi internal bersama seluruh jajaran karyawan, termasuk anak dan cucu perusahaan, dalam mengakselerasi langkah-langkah strategis guna menjaga keberlanjutan operasional," terangnya.
Guna menjaga resiliensi di tengah tekanan global, GIAA juga mendorong penguatan ekosistem industri melalui sinergi yang lebih erat dengan para pemangku kepentingan. Manajemen memandang kerja sama di sektor aviasi nasional menjadi faktor kunci agar industri penerbangan tetap tangguh menghadapi fluktuasi harga komoditas dan risiko geopolitik.
Baca Juga: Hartadinata (HRTA) Gandeng Grup UNTR untuk Perkuat Rantai Pasok Emas Domestik
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













