Reporter: Zendy Pradana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki rencana untuk melakukan pengembangan bisnis telekomunikasi tahun 2026. Lantas, begini strategi yang telah disiapkan Telkom Group.
VP Corporate Communication Telkom, Andri Herawan Sasoko mengatakan bahwa saat ini untuk melakukan pengembangan bisnis telekomunikasi, TLKM tengah berupaya maksimal mengimplementasikan strategi TLKM 30. Strategi tersebut merupakan kerangka transformasi perusahaan menuju digital telco yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.
"Inisiatif ini difokuskan pada penguatan fundamental bisnis melalui pembentukan Strategic Holding (HoldCo), penajaman fokus di tingkat Operating Company (OpCo), optimalisasi monetisasi aset, serta peningkatan operational dan service excellence," ujar Andri kepada Kontan, Kamis (16/4/2026).
Baca Juga: Tak Cuma Pajak, Hyundai Minta Insentif EV Diperluas Hingga Tol dan Parkir
Andri menjelaskan bahwa Telkom Group juga tengah melakukan delayering organisasi untuk meningkatkan agility dan kecepatan eksekusi, dengan memperkuat fokus pada empat pilar utama OpCo, yaitu B2C, B2B ICT, Digital Infrastructure, dan International Business.
"Struktur ini memungkinkan setiap lini usaha memiliki mandat yang lebih jelas dalam menangkap peluang pertumbuhan di ekosistem digital," ucapnya.
Telkom juga tengah berfokus untuk melanjutkan proses spin-off aset wholesale fiber connectivity tahap kedua ke InfraNexia yang ditargetkan rampung pada paruh pertama 2026. Hal itu dilakukan sebagai salah satu optimalisasi monetisasi aset.
"Melalui struktur bisnis yang lebih fokus dan netral, langkah ini diharapkan dapat mengoptimalkan pemanfaatan jaringan fiber sekaligus meningkatkan efisiensi operasional," jelas Andri.
Andri menuturkan implementasi strategi ini akan dijalankan dengan disiplin eksekusi, dan sejalan dengan prinsip bahwa execution builds investor trust.
Dengan demikian, Telkom menargetkan dapat meningkatkan profitabilitas, menciptakan nilai berkelanjutan, serta memperkuat posisi sebagai digital ecosystem enabler di Indonesia dan kawasan.
Baca Juga: HOP Belum Ideal, Pengamat: Pasokan Batubara PLTU Masih Belum Stabil
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













