kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.593.000   1.000   0,04%
  • USD/IDR 17.693   -14,00   -0,08%
  • IDX 6.437   -24,30   -0,38%
  • KOMPAS100 850   -5,62   -0,66%
  • LQ45 647   -3,80   -0,58%
  • ISSI 223   -0,27   -0,12%
  • IDX30 359   -2,55   -0,71%
  • IDXHIDIV20 447   -3,40   -0,76%
  • IDX80 97   -0,66   -0,67%
  • IDXV30 124   -0,63   -0,51%
  • IDXQ30 116   -0,92   -0,79%

Biaya Konstruksi Naik, Total Bangun Persada (TOTL) Perketat Pengelolaan Cash Flow


Rabu, 16 September 2026 / 14:56 WIB
Biaya Konstruksi Naik, Total Bangun Persada (TOTL) Perketat Pengelolaan Cash Flow
ILUSTRASI. Proyek Total Bangun Persada (TOTL) (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) terus memperketat pengelolaan arus kas di tengah kenaikan harga material dan biaya logistik yang berpotensi meningkatkan kebutuhan modal kerja proyek konstruksi.

Corporate Secretary Total Bangun Persada Anggie S. Sidharta mengatakan, kenaikan biaya material maupun logistik menjadi salah satu perhatian perseroan. TOTL terus memonitor perkembangan biaya tersebut karena dapat mempengaruhi kebutuhan dan kelancaran operasional masing-masing proyek.

"Kondisi tersebut tentunya menjadi salah satu perhatian perusahaan. Kenaikan harga material maupun biaya logistik tetap dimonitor karena dapat mempengaruhi kebutuhan dan kelancaran operasional proyek," ujar Anggie kepada Kontan, Rabu (16/9/2026).

Menurut Anggie, perseroan tetap menerapkan pengelolaan cash flow secara prudent dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan setiap proyek.

Perseroan juga mencermati persoalan restitusi pajak yang menjadi salah satu perhatian pelaku industri konstruksi. 

Sebelumnya, Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) menyebut nilai restitusi pajak yang masih tertahan dari anggota asosiasi telah mencapai lebih dari Rp10 triliun.

Baca Juga: Total Bangun Persada (TOTL) Kantongi Kontrak Baru Rp 2,78 Triliun di Semester I-2026

Ketua Umum AKI sekaligus Direktur Utama PT Bangun Cipta Kontraktor Djoko Sarwono mengatakan, sebagian pengajuan restitusi tersebut bahkan telah tertahan lebih dari satu tahun.

Anggie mengatakan, TOTL juga terus menjalankan proses restitusi pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun, perseroan tidak memerinci nilai restitusi yang masih dalam proses.

"Terkait restitusi pajak, perusahaan tetap melakukan proses sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Timing penyelesaiannya dapat berpengaruh terhadap cash flow dan menjadi salah satu perhatian dalam pengelolaan arus kas perusahaan," jelasnya.

Meski demikian, kebutuhan arus kas tetap dikelola secara prudent dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing proyek.

Di tengah margin bisnis kontraktor yang relatif terbatas, TOTL juga menyiapkan langkah antisipasi apabila terjadi kenaikan harga material maupun biaya proyek yang tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke nilai kontrak.

"Ini menjadi perhatian khusus perusahaan dan terus dilakukan monitoring. Perusahaan mempersiapkan contingency plan sesuai dengan kondisi kontraktual masing-masing proyek," kata Anggie.

Dari sisi kinerja, TOTL masih membidik perolehan kontrak baru sebesar Rp4 triliun pada 2026. Hingga Juni 2026, perseroan telah mengantongi kontrak baru sekitar Rp2,78 triliun.

Kontrak baru tersebut terutama berasal dari proyek pembangunan pusat data atau data center, rumah sakit, hospitality, gedung perkantoran, serta sejumlah proyek lainnya.

Baca Juga: Strategi Total Bangun Persada (TOTL) Jaga Margin Proyek di Tengah Pelemahan Rupiah

Perseroan juga masih memiliki pipeline proyek yang dalam proses tender sekitar Rp17,7 triliun. Pipeline tersebut menjadi salah satu penopang optimisme TOTL untuk mencapai target kontrak baru hingga akhir tahun.

Selain kontrak baru Rp4 triliun, TOTL menargetkan pendapatan usaha sebesar Rp3,9 triliun dan laba bersih Rp400 miliar pada 2026.

Pada semester I-2026, pendapatan usaha TOTL mencapai Rp2,05 triliun, tumbuh 22,75% secara tahunan dibandingkan Rp1,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 54,60% menjadi Rp269,74 miliar dari Rp174,48 miliar.

Memasuki semester II-2026, perseroan akan tetap mengandalkan efisiensi dan optimalisasi operasional untuk menjaga pertumbuhan kinerja di tengah dinamika industri konstruksi.

Sementara dari sisi belanja modal, TOTL mengalokasikan capex sekitar Rp25 miliar tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk pengadaan software, peralatan teknologi informasi (IT), serta peralatan proyek.

Baca Juga: Hingga Mei 2026, Total Bangun Persada (TOTL) Raih Kontrak Baru Rp 2,6 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×