kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.831.000   -26.000   -0,91%
  • USD/IDR 17.055   55,00   0,32%
  • IDX 6.989   -37,36   -0,53%
  • KOMPAS100 965   -5,89   -0,61%
  • LQ45 708   -6,82   -0,95%
  • ISSI 250   -1,40   -0,56%
  • IDX30 388   -0,50   -0,13%
  • IDXHIDIV20 481   -1,39   -0,29%
  • IDX80 109   -0,72   -0,66%
  • IDXV30 133   -0,62   -0,46%
  • IDXQ30 126   -0,40   -0,32%

Biaya Produksi AMDK Bakal Naik 45% jika Harga Plastik Terus Melonjak


Senin, 06 April 2026 / 18:21 WIB
Diperbarui Senin, 06 April 2026 / 18:22 WIB
Biaya Produksi AMDK Bakal Naik 45% jika Harga Plastik Terus Melonjak
ILUSTRASI. Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik geopolitik timur tengah (timteng) menjadi salah satu penyebab harga plastik melonjak saat ini. Sehingga, sejumlah industri dalam negeri harus memutar otak untuk menekan biaya produksi dan penjualan.

Salah satu yang terdampak akibat kenaikan harga plastik adalah industri air mineral dalam kemasan (AMDK).

Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA), Karyanto Wibowo mengatakan bahwa dengan melonjaknya harga plastik saat ini berpotensi menekan volume penjualan AMDK.

Harga AMDK terancam naik di tengah menurunnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Pengusaha Air Minum Sebut Tren Penjualan AMDK Alami Penurunan Pasca Lebaran

"Kenaikan plastik malah berpotensi menekan volume penjualan karena, harga jual AMDK terancam naik sementara daya beli masyarakat (terutama kelas menengah bawah) menurun," ujar Karyanto kepada Kontan, Senin (6/4/2026).

Karyanto menjelaskan bahwa AMDK merupakan produk kebutuhan sehari-hari yang elastis terhadap harga. Sehingga, ketika harga kemasan AMDK naik maka konsumen dipastikan akan beralih penggunaannya kepada produk air isi ulang.

"Efisiensi harus dilakukan untuk menahan agar penjualan tidak anjlok, sehingga industri AMDK masih bisa bertahan dalam kondisi yang sulit ini," ucapnya.

Kemudian, biaya produksi AMDK juga dipastikan mengalami peningkatan seiring harga plastik yang melonjak. Karyanto menilai bahwa biaya produksi AMDK berpotensi meningkat hingga 45%.

"Secara keseluruhan, biaya produksi AMDK berpotensi naik dikisaran 35%–45%. Jika tidak ada intervensi/insentif pemerintah, ini akan memicu kenaikan harga ritel dan mengganggu akses masyarakat ke air minum aman," kata Karyanto.

Baca Juga: Faktor Keberlanjutan Makin Menentukan Persaingan Industri AMDK

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor plastik dan barang dari plastik (HS 39) Indonesia mencapai US$ 873,2 juta atau setara Rp 14,78 triliun pada Februari 2026.

China menjadi pemasok terbesar dengan nilai US$ 380,1 juta, diikuti Thailand sebesar US$ 82,7 juta dan Korea Selatan US$ 66,7 juta. Impor juga berasal dari Amerika Serikat senilai US$ 29,9 juta dan Arab Saudi sebesar US$ 14,9 juta.

Selain itu, pasokan plastik turut berasal dari Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Taiwan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×