kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Bos Medco Arifin Panigoro bicara soal pelepasan aset Ophir Energy paska akuisisi


Kamis, 10 Oktober 2019 / 18:19 WIB

Bos Medco Arifin Panigoro bicara soal pelepasan aset Ophir Energy paska akuisisi
ILUSTRASI. Ophir Energy Plc., perusahaan bidang eksplorasi dan produk hulu minyak dan gas asal Inggris meminta PT Medco Energi Tbk MEDC untuk menaikkan penawaran harga yang telah diajukan sebelumnya sebesar 48,50 pence per saham atau total £ 340 juta untuk 707 juta

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pendiri Medco Group Arifin Panigoro memberikan tanggapan soal pelepasan sejumlah aset Ophir Energy Plc pasca akuisisi oleh PT Medco Energy Internasional Tbk (MEDC).

Arifin menilai semua langkah tersebut merupakan kebijakan komersial. "Satu perusahaan jika ada beberapa yang oke ya pertahankan, " sebut Arifin di Kantor SKK Migas di Jakarta, Kamis (10/10).

Baca Juga: Arifin Panigoro: Ide gross split kan simplifikasi, tapi realisasi di lapangan unik

Arifin memastikan pelepasan aset baru akan dilakukan ketika sudah ada transaksi dengan peminat. Adapun sejauh ini, ia mengungkapkan telah ada satu aset yang dilepas. "Ada, ada, yang itu, dibeli si itu," kata Arifin. Sayangnya ia enggan merinci aset mana yang dilepas.

Dengan integrasi dengan Ophir, MEDC, anggota indeks Kompas100 ini, mengklaim dapat melakukan penghematan hingga US$ 30 juta per tahun. Integrasi ini dilakukan salah satunya dengan melepaskan aset-aset milik Ophir pasca akuisisi. Aset-aset yang akan dijual tersebut adalah Blok R Equatorial Guinea, Aru, Papua Barat, Bangladesh, dan Vietnam blok 123 dan 124.

Lebih jauh, Arifin mengomentari pula soal rencana divestasi dua anak usaha yakni PT Medco Power Indonesia (MPI) dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Menurutnya, rencana tersebut tidak dimungkinkan untuk dilaksanakan pada tahun ini. "Gak mungkin, ini kan tinggal beberapa bulan lagi, semuanya mundur ke tahun depan," ungkap Arifin.

Ia menambahkan, hal ini juga berlaku untuk rencana Initial Public Offering (IPO)  kedua anak usaha tersebut. "IPO itu salah satu opsi, tapi backdoor listing juga bisa. Tahu-tahu kita merger dengan perusahaan siapa gitu," jelas Arifin.

Kontan.co.id mencatat, MEDC ingin investor yang masuk ke MPI memiliki kemampuan untuk membantu MPI mengembangkan konversi gas menjadi listrik. Investor yang masuk kriteria MEDC juga harus memiliki kemampuan untuk mengonversi gas menjadi liquified natural gas (LNG).

Baca Juga: Holding Tambang MIND.ID membeli 20% saham INCO, ini pendapat analis

Ronald Gunawan, Direktur Operasi Medco MEDC menambahkan, ke depan, MPI diarahkan untuk membangun sinergi dengan bisnis hulu (upstream) MEDC. Sehingga, diharapkan MPI juga mampu membangun pembangkit listrik tenaga gas yang ada di upstream perusahaan.

MEDC telah merintis pengembangan tersebut. "Realisasinya masih beberapa tahun ke depan," imbuh Ronald.

Selain MPI, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) juga menjadi objek divestasi perusahaan. Namun, manajemen juga belum bersedia merinci rencananya ini. "IPO untuk MPI dan AMNT masih proses, realisasinya menunggu momen yang pas," tandas Anthony.

Asal tahu saja, MPI menguasai 88,62% saham MPI. Aset anak usahanya ini mencapai US$ 351,61 juta per akhir semester I-2019.

Sementara, kepemilikan MEDC atas AMNT saat ini sebesar 39,35%. Porsi ini berubah setelah MEDC menukar 50% saham PT Amman Mineral Internasional (AMIV) yang sebelumnya merupakan pemilik 82,2% saham AMNT. Berdasarkan paparan perusahaan, MEDC hingga saat ini telah menerima US$ 164 juta dari terdilusinya posisi AMNT.


Reporter: Filemon Agung
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan


Close [X]
×