kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   27.000   0,96%
  • USD/IDR 16.991   62,00   0,37%
  • IDX 7.097   -67,03   -0,94%
  • KOMPAS100 977   -12,33   -1,25%
  • LQ45 719   -12,76   -1,74%
  • ISSI 250   -1,82   -0,73%
  • IDX30 391   -7,50   -1,88%
  • IDXHIDIV20 489   -9,60   -1,93%
  • IDX80 110   -1,54   -1,38%
  • IDXV30 134   -2,11   -1,54%
  • IDXQ30 128   -2,18   -1,68%

China dan Jepang bersaing ketat di kereta cepat


Jumat, 26 Juni 2015 / 16:26 WIB
China dan Jepang bersaing ketat di kereta cepat


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Hendra Gunawan

JAKARTA. Pemerintah masih bingung memilih pelaksana proyek kereta api cepat Bandung-Surabaya. Dua calon investor terkuat sudah mengajukan proposalnya ke pemerintah.

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Luhut Panjaitan mengungkapkan, dua proposal tersebut adalah dari Jepang dan China, dimana kedua proposal ini tengah alot digodok. Pemerintah menganggap keduanya mengajukan proposal yang sangat menarik.

Bahkan, luhut mengaku sulit bagi pemerintah memilih diantara keduanya. "Proposal keduanya luar biasa bagus, menarik buat kita," ujar Luhut, Kamis (25/6) lalu di Jakarta.

Meski demikian, kedua proposal yang diajukan memiliki keunggulannya masing-masing. Proposal yang diajukan oleh Jepang misalnya, melalui Shinkansen menawarkan bunga yang rendah untuk pembiayaannya.

Ditambah, Shinkansen memang memiliki image yang bagus sebagai pengembang infrastruktur kereta api cepat di dunia. Oleh karenanya, tawaran dari negeri matahari terbit menggiurkan pemerintah.

Meski demikian, proposal China juga tak kalah menarik. Sebab, mereka menjanjikan pengerjaan yang lebih cepat.

Saat ini proyek kereta api cepat sedang dilakukan proses studi kelayakan (feasibility study) oleh investor asal China. Rencananya, keputusan akhir mengenai proyek ini akan diketuk akhir tahun nanti.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago bilang, keputusan mengenai pelaksana proyek akan ditentukan studi kelayakan. Meski, studi tersebut dilakukan oleh investor China, pemerintah belum tentu akan menyerahkan seluruh proyek kepada mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×