Reporter: Fahriyadi | Editor: Fahriyadi .
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) berbasis ekonomi sirkular mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan menciptakan lapangan usaha baru.
Melalui pengelolaan limbah menjadi produk bernilai tambah, masyarakat tidak hanya memperoleh sumber pendapatan, tetapi juga ikut menjaga keberlanjutan lingkungan.
Hal itu jadi salah satu sorotan dalam rangkaian Management Walkthrough (MWT) Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan, di sejumlah wilayah operasional perusahaan di Jawa Timur.
Baca Juga: B50 Meluncur, Pertamina Patra Niaga Distribusikan 37,92 Juta Liter ke Wilayah Ini
Dalam kunjungannya ke Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Iriawan meninjau implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk Kalanganyar Circular Living Initiative (Kang Iling) yang dikembangkan Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda.
Program tersebut mengusung konsep ekonomi sirkular dengan mengolah limbah cabut duri ikan bandeng dan minyak jelantah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang usaha baru bagi masyarakat.
Hingga saat ini, program telah melibatkan 550 kepala keluarga dengan 79 anggota aktif, termasuk 42 perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai buruh tambak. Dalam satu tahun, program tersebut berhasil membukukan omzet mencapai Rp788,4 juta, sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis usaha mikro.
Menurut Iriawan, model pemberdayaan seperti ini menunjukkan program CSR tidak lagi sebatas penyaluran bantuan, tetapi mampu menciptakan ekosistem ekonomi berkelanjutan.
"Program seperti ini menunjukkan CSR Pertamina tak hanya berorientasi pada bantuan semata, tetapi mampu membangun kemandirian masyarakat melalui inovasi, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian lingkungan. Saya berharap program ini terus berkembang sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Ia menegaskan keberlanjutan program menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat dapat terus berkembang.
"Lanjutkan dan bina terus. Apa yang sudah dibangun jangan ditinggalkan, karena biar Pertamina semakin jaya," katanya.
Salah seorang penerima manfaat, Solikha, mengaku program ini mengubah kondisi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warga.
Menurutnya, sebelum program berjalan, limbah rumah tangga dan limbah pengolahan ikan dibuang langsung ke saluran air sehingga lingkungan jadi kumuh. Kini, melalui fasilitas pengolahan limbah seperti Anaerobic Biofilter, kawasan itu berkembang menjadi lokasi edukasi dan wisata lingkungan yang kerap dikunjungi pelajar hingga akademisi.
Selain meninjau program pemberdayaan masyarakat, Iriawan mengunjungi RS IHC Perkebunan Jember Klinik di Kabupaten Jember. Dalam kesempatan itu, ia meninjau berbagai fasilitas layanan kesehatan, mulai dari Medical Check Up (MCU), Instalasi Gawat Darurat (IGD), ruang rawat inap, poliklinik spesialis, laboratorium, hingga instalasi farmasi.
Ia menilai kualitas layanan kesehatan yang baik tidak hanya ditentukan kelengkapan fasilitas dan teknologi, tetapi juga profesionalisme serta empati tenaga kesehatan dalam melayani pasien.
"Pelayanan kesehatan berkualitas lahir dari profesionalisme, dedikasi, dan ketulusan seluruh insan rumah sakit. Kepercayaan masyarakat harus terus dijaga melalui inovasi, peningkatan kompetensi, serta pelayanan yang humanis," ujarnya.
Rangkaian Management Walkthrough di Jawa Timur merupakan bagian dari upaya perusahaan memastikan seluruh unit bisnis, layanan publik, serta program pemberdayaan masyarakat berjalan optimal. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat dampak sosial sekaligus menciptakan nilai tambah melalui peningkatan produktivitas masyarakat, pengembangan UMKM, serta penguatan ekonomi berbasis lingkungan yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














