Penulis: Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penyedia layanan identitas dan tanda tangan digital, PT Privy Identitas Digital (Privy), mendorong implementasi identitas digital terverifikasi (Digital ID) di ekosistem penjualan tiket (ticketing) sebagai upaya menekan maraknya penipuan dan praktik percaloan tiket konser.
Founder & CEO Privy Marshall Pribadi mengatakan kasus penipuan berkedok penjualan tiket konser oleh pihak ketiga atau calo kembali menjadi sorotan.
Salah satu yang menyita perhatian adalah dugaan penipuan dalam penjualan tiket konser BTS World Tour ARIRANG di Jakarta.
Baca Juga: Isu PHK Marak, Wamenaker: Minat Investor Berekspansi di Indonesia Masih Besar
Menurut Marshall, sistem pembelian tiket yang saat ini umumnya hanya mewajibkan pengisian nomor KTP belum sepenuhnya mampu mencegah penyalahgunaan identitas.
Pasalnya, pengisian nomor KTP secara manual tidak dapat memastikan bahwa orang yang melakukan transaksi benar-benar merupakan pemilik identitas tersebut.
"Input nomor KTP saja belum cukup karena tidak memverifikasi bahwa pihak yang memasukkan data merupakan pemilik identitas yang sah," ujar Marshall dalam keterangan resmi, Jumat (3/7/2026).
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Privy menawarkan dua layanan utama, yakni PrivyHub dan Login with Privy, yang memanfaatkan identitas digital terverifikasi.
PrivyHub merupakan portal layanan di dalam aplikasi Privy yang memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan mitra (merchant) lintas industri tanpa perlu berpindah aplikasi.
Baca Juga: Ada Harapan Baru! Spindo (ISSP) Prediksi Permintaan Baja Bangkit pada Semester II
Sementara itu, Login with Privy memungkinkan pengguna masuk atau mendaftar ke aplikasi maupun situs merchant menggunakan Privy ID yang telah terverifikasi, dengan tetap mengedepankan persetujuan pengguna atas penggunaan datanya.
Marshall menjelaskan, dalam ekosistem ticketing, kedua layanan tersebut memungkinkan setiap pembelian tiket dikaitkan dengan satu identitas digital yang telah diverifikasi, termasuk melalui proses verifikasi biometrik.
"Dalam konteks ticketing, kedua fitur digital identity Privy memungkinkan setiap pembelian tiket terikat pada satu individu yang telah diverifikasi dan memungkinkan pengecekan biometrik. Hal ini dapat menghindari pemalsuan identitas dalam proses pembelian tiket," jelasnya.
Dengan mekanisme tersebut, lanjut Marshall, praktik pembelian tiket secara massal menggunakan identitas orang lain dapat diminimalkan.
Baca Juga: Dukung Industri AMDK, Amdatara Perkuat Pengelolaan Berkelanjutan & Ekonomi Sirkular
Selain itu, penjualan tiket ilegal oleh pihak ketiga juga akan lebih sulit dilakukan karena identitas setiap pihak yang bertransaksi dapat diverifikasi.
Karena itu, Privy berencana mendorong integrasi fitur Privy Digital ID ke dalam ekosistem ticketing agar proses pembelian tiket menjadi lebih aman, transparan, dan akuntabel.
Marshall menambahkan, solusi Digital ID Privy saat ini telah dimanfaatkan oleh berbagai platform di sejumlah sektor, mulai dari investasi emas digital, media massa, teknologi pendidikan (edutech), hingga layanan visa digital.
"Keberhasilan implementasi di berbagai industri tersebut menjadi landasan kuat bagi industri ticketing untuk membangun ekosistem penjualan tiket yang lebih aman dan tepercaya," tutup Marshall.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














