kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.024.000   -25.000   -0,82%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Danantara Gandeng Operator China, Dorong Transfer Teknologi ke Mitra Lokal


Jumat, 06 Maret 2026 / 19:21 WIB
Danantara Gandeng Operator China, Dorong Transfer Teknologi ke Mitra Lokal


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danantara Indonesia menetapkan dua perusahaan asal China sebagai mitra operator fasilitas Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) untuk proyek di Bekasi dan Denpasar.

Pengumuman ini disampaikan Danantara pada Jumat (6/3/2026). Dua korporasi yang ditetapkan sebagai operator yakni Wangneng Environment Co., Ltd. untuk proyek WtE di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. untuk proyek di Denpasar.

Penunjukan ini merupakan bagian dari implementasi program WtE Danantara sesuai Peraturan Presiden (Perpres) No. 109 Tahun 2025. Program ini diarahkan untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan, mengurangi ketergantungan pada pembuangan ke tempat pembuangan akhir (TPA), sekaligus mendukung pengembangan pembangkit energi berkelanjutan.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan, penetapan mitra operator tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan fasilitas WtE dikelola dengan standar operasional yang tinggi.

Baca Juga: Dongkrak Penjualan Ramadan-Lebaran 2026, TRIS Andalkan Merek JOBB dan Jack Nicklaus

Dia menambahkan, Danantara akan terus bekerja sama dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan proyek ini memberikan dampak nyata terhadap pengurangan sampah dan pembangkitan energi bersih.

Pandu menuturkan, mitra operator yang terpilih juga diwajibkan membentuk konsorsium dengan badan usaha milik pemerintah daerah serta perusahaan lokal Indonesia. Langkah ini dimaksudkan untuk mendorong transfer teknologi sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam negeri di sektor pengolahan sampah dan energi.

“Mitra operator terpilih diharapkan mampu menjaga kinerja operasional yang konsisten, memastikan kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku, serta mendorong keterlibatan yang berkelanjutan dengan masyarakat," jelasnya.

Di sisi lain, Danantara menekankan pentingnya tata kelola yang kuat sejak tahap awal proyek, termasuk proses seleksi mitra yang dilakukan secara transparan dan berbasis mitigasi risiko.

Sementara itu, Corporate Secretary PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) Kurniawati Budiman mengungkapkan pihaknya juga berminat terlibat sebagai mitra lokal dalam proyek tersebut.

“Ya, Astrindo tertarik untuk menjadi mitra lokal. Penjajakan dilakukan oleh principal kami,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).

Pengamat ekonomi energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyaki menilai pengembangan fasilitas WtE menjadi kebutuhan mendesak, khususnya bagi kota-kota besar di Pulau Jawa yang menghadapi tekanan kapasitas TPA.

Menurut dia, sistem pengelolaan sampah berbasis landfill saat ini semakin tidak aman dan tidak ramah lingkungan. Karena itu, reformasi pengelolaan sampah menuju pendekatan ekonomi sirkular menjadi penting.

“Transfer teknologi ke perusahaan lokal sangat penting, karena kita tidak bisa terus bergantung pada investor luar tanpa membangun kapasitas nasional dalam infrastruktur WtE,” kata Yayan kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).

Sementara itu, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai penetapan perusahaan Tiongkok sebagai operator mencerminkan langkah pragmatis pemerintah dalam mencari solusi atas krisis sampah perkotaan sekaligus memperluas sumber energi alternatif.

Ia menilai proyek WtE berpotensi meningkatkan efisiensi pengelolaan limbah sekaligus menghasilkan listrik yang mendukung ketahanan energi nasional.

Namun, Syafruddin menekankan pengelolaan proyek harus dilakukan dengan tata kelola yang kredibel agar mampu memperkuat kepercayaan investor terhadap proyek infrastruktur lingkungan di Indonesia.

Menurut dia, pemerintah juga perlu memastikan struktur pembiayaan proyek, termasuk tarif listrik dan mekanisme tipping fee, dirancang secara transparan agar tidak menimbulkan tekanan fiskal baru.

Selain itu, keterlibatan mitra lokal harus menjadi bagian penting dalam struktur konsorsium agar transfer teknologi benar-benar terjadi.

“Tanpa mekanisme tersebut, Indonesia hanya membeli fasilitas jadi tanpa memperkuat kapasitas industri nasional,” ujarnya.

Baca Juga: Penjualan Global Chery Tembus 160.765 Unit pada Februari 2026, Melonjak 41,5% YoY

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×