Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAAN.CO.ID - JAKARTA. Pengelola jaringan ritel Guardian dan IKEA, PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO) memandang prospek bisnis di semester kedua tetap positif, meskipun dibayangi pelemahan daya beli masyarakat.
Presiden Direktur DFI Retail Nusantara Hadrianus Wahyu Trikusumo menyatakan perusahaan tetap melihat peluang pertumbuhan, terutama dari bisnis Health & Beauty, di mana kebutuhan konsumen relatif lebih resilient.
Untuk mendukung potensi pertumbuhan tersebut, Guardian terus memperkuat kombinasi antara jaringan toko fisik dan kanal digital.
Baca Juga: Unilever Dorong Inovasi di Bisnis Hair Care lewat Teknologi AI
“Kami tetap optimistis terhadap prospek semester kedua, meskipun kami menyadari bahwa konsumen saat ini semakin selektif dalam menentukan prioritas belanja,: ungkap Hadrianus, kepada Kontan.co.id, pada Jumat (13/8) lalu.
Sementara di sisi home furnishings, perseroan mengaku akan lebih berhati-hati karena pemulihan permintaan masih membutuhkan waktu.
Karena itu, fokus HERO untuk sektor ini dibagi ke dalam beberapa aspek, antara lain peningkatan produktivitas toko, memperkuat proposisi produk dan layanan, mengoptimalkan persediaan, serta terus meningkatkan efisiensi biaya.
Dengan strategi tersebut, manajemen tetap berupaya mencapai target pertumbuhan tahun ini. Di sisi lain, pihaknya akan tetap memonitor perkembangan konsumsi dan melakukan penyesuaian secara agile apabila kondisi pasar berubah.
Merujuk laporan keuangan, pendapatan bersih HERO tercatat meningkat 15,32% menjadi Rp 2,71 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp 2,35 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, pertumbuhan laba kotor tersebut belum berlanjut ke bottom line. Laba tahun berjalan HERO turun 16,60% menjadi Rp 62,69 miliar, dibandingkan Rp 75,17 miliar pada semester I-2025.
Menurutnya, realisasi kinerja untuk paruh pertama menjadi basis evaluasi perusahaan terhadap pencapaian tahun berjalan. Namun, secara prinsi laju bisnis HERO di periode semester I-2026 dinilai masih sejalan dengan rencana perusahaan.
“Secara prinsip, kami masih melihat kinerja berada dalam arah yang sesuai dengan rencana perusahaan, dengan tetap memperhatikan dinamika daya beli dan kondisi pasar ritel,” tuturnya.
Selain fokus pada jaringan offline, perusahaan juga terus mengupayakan pengembangan terhadap kanal online. Hal ini sejalan dengan realisasi pertumbuhan penjualan online yang tumbuh cukup kuat pada tahun lalu.
Di Guardian, ungkap Hadrianus, penjualan online meningkat sekitar 85,7% secara tahunan pada tahun lalu. Pertumbuhan tersebut didukung antara lain oleh official store Guardian di marketplace dan pengembangan kanal digital perusahaan.
“Karena itu, pada semester kedua kami akan terus memperkuat aplikasi, marketplace, e-commerce dan social commerce. Tujuannya bukan menggantikan toko fisik, melainkan membuat toko fisik dan kanal digital saling melengkapi,” ungkapnya.
Meski demikian, kehadiran toko offline tetap memiliki peran penting karena pelanggan membutuhkan pengalaman langsung, layanan dan konsultasi, khususnya untuk kategori kesehatan dan kecantikan. Sedangkan kanal digital memberikan aksesibilitas, convenience dan jangkauan yang lebih luas.
Baca Juga: Prabowo Targetkan PLTS 100 GW, DEN Ungkap Kunci dan Wilayah yang Harus Diprioritaskan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News











![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
