Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - DEPOK. Produsen pompa industri nasional, PT Duraquipt Cemerlang memasang target optimistis untuk kinerja bisnis tahun depan. Perusahaan membidik pertumbuhan pendapatan sebesar 35% menjadi Rp 432 miliar pada 2026.
CEO Duraquipt Cemerlang Steven Sutanto mengatakan, optimisme tersebut sejalan dengan proyeksi peningkatan proyek di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas).
Baca Juga: PLN Luncurkan Proyek PLTS Mentari Nusantara I 1,22 GW Lewat Skema Tender Giga One
“Pendapatan Duraquipt pada 2025 sebesar Rp 320 miliar. Kami menargetkan bisa tumbuh 35% pada 2026. Bahkan dalam beberapa tahun ke depan, kami membidik pendapatan hingga Rp 1 triliun,” ujarnya saat ditemui di pabrik perusahaan di kawasan Depok, Jawa Barat, Kamis (30/4/2026).
Menurut Steven, kebijakan Pedoman Tata Kerja (PTK) SKK Migas yang mewajibkan penggunaan barang dan jasa lokal oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjadi katalis positif bagi penjualan produk Dura Pump.
“Kami mengapresiasi kebijakan pemerintah, khususnya PTK SKK Migas, yang memberikan ruang lebih besar bagi produk dalam negeri untuk menyuplai kebutuhan KKKS,” tambahnya.
Saat ini, produk Duraquipt telah digunakan di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, pembangkit listrik, hingga petrokimia.
Baca Juga: LPPOM Dorong UMKM Naik Kelas, Perkuat Rantai Pasok Halal dari Hulu ke Hilir
Selain pasar domestik, perusahaan juga mulai mengincar ekspansi ke pasar Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Timor Leste.
Untuk mendukung target jangka panjang, Duraquipt tengah melakukan ekspansi fasilitas produksi dengan membangun pabrik pengecoran logam (foundry) di lahan seluas 12.000 meter persegi di Bojongsari, Depok.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas manufaktur perusahaan yang saat ini didukung oleh sekitar 450 karyawan.
Baca Juga: Grab Respons Perpres Ojol, Tunggu Aturan Teknis Soal Bagi Hasil 92%
Dari sisi kandungan lokal, Steven menyebut sebanyak 27 produk Duraquipt telah mengantongi sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dengan nilai antara 40% hingga lebih dari 50%.
“Kami berharap kolaborasi dengan regulator, SKK Migas, SUCOFINDO, dan pelaku industri dapat mendorong tercapainya visi Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













