kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

East West Seed ancam angkat kaki, ini penyebabnya!


Selasa, 06 Januari 2015 / 19:01 WIB
East West Seed ancam angkat kaki, ini penyebabnya!
ILUSTRASI. Intip warna-warna yang jadi tren warna cat rumah Anda yuk!


Reporter: Mona Tobing | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Pengusaha benih tengah harap-harap cemas menunggu putusan Undang-Undang Hortikultura. Selain menunda berinvestasi, ternyata diam-diam pengusaha di sektor hortikultura sudah berencana untuk angkat kaki dari Indonesia.

PT East West Seed Indonesia misalnya dalam waktu dekat hendak melakukan investasi dengan membangun pabrik dan gudang. Rencananya, pabrik di Purwakarta akan ditingkatkan kapasitasnya dua kali lipat.

Investasi diperkirakan mencapai Rp 50 miliar. Namun Direktur Utama East West Seed Indonesia Glenn Pardede mengaku masih menahan diri untuk berinvestasi sampai menunggu kepastian UU Hortikultura. Padahal kebutuhannya semakin mendesak mengingat permintaan akan sayuran tanah air juga tidak turun.

“Kalau berlaku surut, kami mungkin akan pindah ke Malaysia,” tandas Glenn, Selasa (6/1).

Undang-Undang (UU) Hortikultura diyakini pengusaha benih lebih banyak membawa mudaratnya ketimbang manfaat. Bahkan tren kenaikan impor hortikultura diprediksi bakal terjadi di tengah kondisi kebutuhan sayuran nasional yang kian tinggi.

UU Hortikultura hanya akan membuat trend impor mendaki. Daripada susah-susah menciptakan benih lebih baik impor saja buah dan sayur dari Tiongkok atau Thailand.

Padahal minat investor benih cukup tinggi. Karena kebutuhan sayuran terus naik dengan masih rendahnya konsumsi sayuran masyarakat saat ini rata-rata 40 kilogram per kapita per tahun. Padahal rekomendasi Food and Agriculture Organization/FAO mencapai 80 kilogram per kapita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×