Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konsep kota terpadu semakin banyak diadopsi di Indonesia. Kota terpadu bukan sekadar kawasan hunian, tetapi menggabungkan fungsi tempat tinggal, bisnis, pendidikan, kesehatan, rekreasi, hingga transportasi dalam satu lingkungan yang terintegrasi.
Tren ini lahir sebagai jawaban atas tantangan urbanisasi yang kian pesat. Badan PBB memperkirakan bahwa pada 2050, hampir 70% populasi dunia akan tinggal di perkotaan. Tanpa perencanaan matang, pertumbuhan ini dapat memicu kemacetan, kepadatan, hingga kesenjangan infrastruktur. Kota terpadu menawarkan solusi dengan tata ruang yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
PT Summarecon Agung Tbk merupakan pengembang nasional yang konsisten berkomitmen mengembangkan kawasan terpadu. Emiten bersandi SMRA ini tercatta telah mengembangkan sembilan kota terpadu hingga menginjak usianya yang ke-50. Lewat kawasan-kawasan itu, Summarecon mencipatkan ekosistem yang siap tumbuh.
Kota terpadu yang paling menggeliat di antaranya Summarecon Kepala Gading, Summarecon Bekasi, dan Summarecon Mutiara Makassar.
Executive Director PT Summarecon Agung Tbk, Magdalena Juliati mengatakan, geliat pengembangan Summarecon Bekasi sebagai proyek kota terpadu mengubah utara Kota Bekasi menjadi kawasan hunian dan komersial metropolitan yang berkembang.
Baca Juga: Summarecon (SMRA) Raih Marketing Sales Rp 3,1 Triliun, Optimis Target Tercapai
Summarecon Bekasi berjarak sekitar 21 kilometer di timur Jakarta, lahan lebih dari 500 hektare (ha) ini diposisikan sebagai kota satelit yang memadukan perdagangan dan industri.
Infrastruktur kunci seperti Flyover KH Noer Ali sepanjang kurang lebih 750 meter mengikat pergerakan dari utara ke selatan, sementara Summarecon Mal Bekasi, area perkantoran dan hotel, serta sekolah Islam Al-Azhar dan BPK Penabur membentuk fondasi trafik yang stabil.
“Saat ini Summarecon Bekasi sudah menjadi ikon dan destinasi, bukan hanya bagi warga Bekasi, tetapi juga kota-kota sekitarnya. Salah satunya sebagai destinasi pendidikan karena fasilitasnya sudah lengkap,” kata Magdalena dalam keterangannya, Jumat (29/8).
Sementara Summarecon Kelapa Gading tumbuh dari 10 hektare pada 1975 menjadi 550 hektare kawasan modern. Hingga kini, kawasan ini menaungi sekitar 30.000 rumah, 2.850 apartemen, dan 2.150 ruko.
Sentra Kelapa Gading menghadirkan Mal Kelapa Gading, La Piazza, Gading Food City, serta hotel HARRIS dan POP!, dengan kunjungan mencapai 38 juta orang pada 2015, menjadikannya salah satu destinasi tersibuk di Jakarta sekaligus magnet bisnis F&B, ritel, dan layanan harian.
Baca Juga: Menengok Kelengkapan Fasilitas Kota Summarecon Makassar
Di Indonesia Timur, Summarecon Mutiara Makassar dikembangkan sebagai Aeroport City seluas 400 ha memanfaatkan kedekatannya dengan bandara dan pelabuhan untuk menggerakkan logistik dan perdagangan. Penataannya mencakup gudang dan pusat logistik, hotel dan convention hall, kawasan perkulakan bahan bangunan, elektronik, furnitur, tekstil, serta fasilitas esensial seperti rumah sakit dan sekolah.
Manfaat Berbisnis di Kota Terpadu
Prosek berbisnis di kota terpadu cukup besar karena menawarkan target pasar yang jelas sekaligus terintegrasi. Ada keluarga muda, pelajar, sampai profesional yang setiap hari hilir mudik. Artinya, kamu bisa fokus ke segmen tertentu tapi tetap punya peluang menjangkau lintas segmen.
Menurut Summarecon, yang bikin semakin menarik, ekosistem di dalam kota ini saling nyambung. Restoran, kafe, ritel, sampai layanan pendidikan bisa saling dorong trafik. Mengingat dekat mal atau area rekreasi, maka potensi kunjungannya bia bertambah.
Kota terpadu juga punya infrastruktur kelas satu, jalan mulus, listrik dan internet stabil, pengelolaan kawasan rapi, plus keamanan 24 jam. Ditambah ruang terbuka hijau, taman, dan jalur pejalan kaki yang bikin orang betah lebih lama.
Developer besar biasanya tidak cuma membangun gedung lalu lepas tangan. Mereka mengurus manajemen properti, promosi kawasan, acara komunitas, sampai maintenance jangka panjang, semua demi bikin tenant makin cuan.
Baca Juga: Summarecon Gelontorkan Rp 20 Miliar untuk Dapat Hak Nama di Stasiun LRT Jakarta
Peluang bisnis kawasan terpadu cukup luas. Dari sektor makanan dan minuman, ada restoran, kafe, bakery, dan coffee shop, lalu ada ritel & lifestyle (fashion, supermarket, gym, salon), layanan sehari-hari (laundry, klinik, daycare, co-working space), sampai hiburan (bioskop, arena bermain, pusat seni). Bahkan startup teknologi bisa dapat panggung lewat infrastruktur digital dan basis pengguna yang siap dipakai.
Intinya, kota terpadu itu mesin pertumbuhan. Semua elemen, dari infrastruktur, tenant, sampai gaya hidup, menjadi magnet yang nggak pernah berhenti muter. "Urbanisasi terus jalan, dan pemenangnya bukan cuma yang cepat buka gerai, tapi yang pintar memilih ekosistem tepat." pungkas manajemen Summarecon.
Selanjutnya: Rupiah Anjlok 0,82% ke Rp 16.488 per Dolar AS Jumat (29/8) Siang, Terlemah di Asia
Menarik Dibaca: Mau Merdeka dari Perut Buncit? Coba 4 Cara Mengecilkan Perut Buncit Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News