Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor komoditas tambang mengalami penurunan dari segi nilai sepanjang November 2025 sebesar US$ 22,52 miliar atau merosot 6,6% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 24,11 miliar.
Data yang berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, penurunan ekspor sektor pertambangan terjadi karena turunnya nilai ekspor beberapa komoditas seperti: batubara, bijih tembaga, lignit, bijih zirconium, tantalum hingga bijih titanium.
Deputi Statistik Bidang Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyebut penurunan ekspor utamanya terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya yang turun sebesar 22,28% dengan andil penurunan 3,55%.
Baca Juga: Asaki Ungkap Utilisasi & Volume Produksi Keramik pada 2025 dan Proyeksi untuk 2026
“Ini disebabkan karena penurunan nilai ekspor batu bara, bijih tembaga, lignit, bijih zirconium, tantalum hingga bijih titanium,” ungkap Pudji dalam agenda konferensi pers BPS, dikutip Selasa (06/01/2025).
Sebagai contoh, batubara misalnya, mengalami penurunan secara kumulatif, dengan nilai yang hanya mencapai US$22,17 miliar atau turun 20,27% dibandingkan dengan Januari-November 2024 sebesar US$27,80 miliar.
Dalam hitungan secara bulanan, ekspor batu bara (HS2701) pada November 2025 mencapai US$2,07 miliar atau turun 3,16% dari Oktober 2025 yang mencapai US$2,14 miliar.
Adapun, volume ekspor batubara pada Januari-November 2025 turun 3,97% menjadi 354,64 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu 269,31 juta ton. Khusus untuk November 2025, volume ekspor batu bara mencapai 34,17 juta ton atau turun 2,72% year-on-year (yoy).
Terkait adanya koreksi ekspor di sektor tambang yang biasanya mengalami peningkatan ini, menurut Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar menyebut tahun 2026 ekspor tambang masih berisiko tertekan.
"Kita melihat terutama dari sisi nilai, seiring tren harga komoditas global yang belum sepenuhnya pulih dan juga ada kebijakan pengendalian/pengurangan produksi di dalam negeri," kata dia kepada Kontan, Selasa (06/01/2025).
Dari sisi volume, target pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM untuk memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) komoditas tambang seperti batubara dan nikel untuk menjaga harga dan keberlanjutan cadangan dinilai akan mempengaruhi arah ekspor kedepan.
"Namun, ada harapan penurunan tidak terlalu tajam dan masih ada potensi naik tipis jika permintaan China, India dan secara global mulai stabil," tambahnya.
Adapun, khusus untuk tembaga, penurunan terjadi salah satunya karena sudah habisnya relaksasi ekspor tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) yang berakhir pada 16 September 2025 lalu. Dan kali ini berganti dengan izin ekspor konsentrat tembaga Amman Mineral (AMMN) hingga April 2026.
"Secara jangka pendek, gap ekspor tembaga akibat berhentinya ekspor Freeport sulit langsung tergantikan sepenuhnya oleh Amman Mineral. Tapi, meskipun Amman memperoleh izin ekspor, kapasitas produksinya tidak bisa menyamai Freeport. Dampaknya bisa jadi kontribusi ekspor tembaga 2026 juga akan turun," jelasnya.
Disisi lain, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE, Muhammad Faisal, menilai sepanjang 2025 pergerakan komoditas tambang dan energi mengalami koreksi.
"Terutama harga komoditas energi, minyak, gas, batubara, itu mengalami penurunan. Komoditas yang lain, seperti perkebunan, itu cenderung meningkat, Indonesia memang punya ketergantungan ekspor tambang yang baik secara volume dan nilai ini masih cukup signifikan," kata dia.
Kedepan, potensi ekspor dari sektor pertambangan masih tetap menjadi pendorong. Namun adanya tekanan global seperti distrupsi Amerika ke Venezuela, bisa berpotensi mengurangi permintaan komoditas energi, termasuk tambang.
"Dan juga tren transisisi energi yang lebih hijau akan mengurangi ketergantungan ke komoditas tambang. Dari prospek ketergantungan ke tambang, kedepan akan tergantung kecepatan pemerintah mendorong hiliriasi dan target pasar ekspor untuk produk mid-stream," tutupnya.
Baca Juga: Kadin Nilai Prospek FDI High Tech Indonesia Masih Kuat pada 2026
Selanjutnya: Tekan Rasio Klaim Asuransi Kredit, Asei Terapkan Sejumlah Strategi Ini
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












