Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja ekspor kendaraan roda empat Indonesia mencatat pertumbuhan sepanjang 2025 di tengah pelemahan pasar domestik dan penurunan produksi di sejumlah segmen, termasuk kendaraan komersial seperti truk.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan pengiriman mobil utuh atau completely built up (CBU) mencapai 518.212 unit. Angka ini naik 9,7% secara tahunan (year on year/YoY) sekaligus menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah ekspor mobil Indonesia.
Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara menyampaikan bahwa capaian tersebut menjadi penopang penting bagi industri otomotif nasional ketika penjualan dalam negeri belum kembali ke level normal seperti sebelum perlambatan pasar.
"Biasanya kita jualan bisa di atas 1 juta unit, sekarang kita hanya 800 ribuan. Kemarin alhamdulillah tembus 803 ribu unit. Tapi yang menarik kan ekspor juga, kita tembus all time high 518.000 unit,” ujarnya kepada media di Jakarta, Jumat (30/1/2026).
Baca Juga: Daftar Harga Mobil LCGC Bekas Februari 2026: Sigra Mulai Rp 70 Jutaan
Kukuh mengakui penurunan produksi tidak hanya terjadi pada kendaraan komersial, melainkan hampir di seluruh segmen kendaraan. Meski demikian, peningkatan ekspor dinilai menjadi sinyal positif atas daya saing industri otomotif Indonesia di pasar global.
Pabrikan Jepang Masih Dominan
Dari sisi produsen, ekspor CBU masih didominasi pabrikan asal Jepang. Toyota memimpin dengan pengiriman 175.446 unit atau berkontribusi 33,9% dari total ekspor. Posisi berikutnya ditempati Daihatsu dengan 124.848 unit (24,1%) dan Mitsubishi Motors 105.079 unit (20,3%).
Hyundai berada di peringkat selanjutnya dengan 54.175 unit, disusul Suzuki 30.636 unit dan Honda 17.126 unit.
Selain CBU, pengiriman kendaraan dalam bentuk terurai atau completely knocked down (CKD) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. Sepanjang 2025, ekspor CKD mencapai 63.263 unit, melonjak 36,6% dibandingkan 46.311 unit pada 2024.
Mitsubishi Motors menjadi kontributor terbesar ekspor CKD dengan 48.157 unit atau sekitar 76% dari total CKD. Di belakangnya terdapat Hyundai dengan 8.522 unit serta Suzuki 5.852 unit.
Ekspor Komponen Turun
Berbeda dengan CBU dan CKD, ekspor komponen otomotif justru mengalami penurunan. Sepanjang 2025, ekspor komponen tercatat 141,9 juta potong, turun 7,3% dari 153 juta potong pada 2024.
Baca Juga: Pasar EV Indonesia Siap Gusur Thailand, Ini Pemicunya!
Mayoritas komponen masih dipasok oleh Toyota dengan kontribusi lebih dari 90%, diikuti Honda dan Hino.
Menurut Kukuh, peningkatan ekspor mobil tidak terlepas dari kerja sama erat antara pelaku industri dan pemerintah melalui berbagai kementerian dalam membuka akses pasar baru bagi kendaraan buatan Indonesia.
"Kita syukuri saja bahwa ekspor meningkat, all time high. Kita terus kerja keras semua pihak, baik pelaku maupun pemerintah, misalnya dengan beberapa kementerian seperti luar negeri dan perdagangan. Kita ingin ekspor ke Meksiko lebih baik, ke Timur Tengah juga,” katanya.
Gaikindo menilai tren ekspor yang meningkat menjadi bantalan penting bagi industri otomotif nasional di tengah perlambatan permintaan domestik.
Dengan penetrasi pasar yang semakin luas serta diversifikasi negara tujuan ekspor, kinerja ekspor diharapkan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan industri otomotif Indonesia pada tahun-tahun mendatang.
Selanjutnya: Harga Emas Antam Merosot Rp 183.000 per Gram, Cermati Pemicunya
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (4/2) Jabodetabek Hujan Sangat Lebat di Sini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













