kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.740   33,00   0,20%
  • IDX 8.748   101,19   1,17%
  • KOMPAS100 1.205   11,60   0,97%
  • LQ45 852   5,43   0,64%
  • ISSI 315   6,02   1,95%
  • IDX30 439   1,60   0,37%
  • IDXHIDIV20 511   1,24   0,24%
  • IDX80 134   1,29   0,97%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,22   0,15%

ESDM: Pemangkasan Produksi Nikel Tahun 2026 Disesuaikan dengan Kebutuhan Produksi


Jumat, 02 Januari 2026 / 17:16 WIB
ESDM: Pemangkasan Produksi Nikel Tahun 2026 Disesuaikan dengan Kebutuhan Produksi
ILUSTRASI. Wamen ESDM Yuliot Tanjung (KONTAN/Sabrina Rhamadanty) Wamen ESDM Yuliot Tanjung menyebut pemangkasan produksi nikel dan batubara tahun ini akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wakil Menteri (Wamen) ESDM Yuliot Tanjung menyebut pemangkasan produksi nikel dan batubara tahun ini akan disesuaikan dengan kebutuhan industri.

"Kalau untuk Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) minerba ini kan kita akan sesuaikan dengan kebutuhan industri. Karena seluruh mineral itu kan harus wajib diolah di dalam negeri," ungkap Yuliot saat ditemui di Kantor ESDM Jakarta, Jumat (02/01/2026).

Yuliot menambahkan, Kementerian ESDM akan menyesuaikan volume produksi tahun ini dengan permintaan RKAB dari penambang.

"Jadi berapa kebutuhan industri di dalam negeri, ya kemudian itu berapa kemampuan pasar. Jadi berapa yang diajukan oleh perusahaan untuk RKAB ini, kita akan sesuaikan," tambah Yuliot.

Meski begitu, Yuliot mengakui jika terjadi over produksi, termasuk pada nikel, akan berpengaruh pada penurunan harga tahun 2026.

 Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Genjot Pasar Ekspor pada 2026

"Kalau over produksi ini kan dampaknya adalah penurunan harga. Jadi ya, kan kita juga mengusahakan bagaimana industri bisa tetap berjalan. Jadi tingkat keuntungan itu bisa dioptimalkan dan juga ujung-ujungnya adalah penerimaan negara," ungkapnya.

Adapun, saat ditanya mengenai permintaan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) untuk memangkas produksi tahun ini hingga 250 wet metrik ton (wmt). Yuliot bilang hal ini masih dikonsolidasikan dengan Direktorat Dirjen Mineral dan Batubara (Minerba).

"Nggak, itu belum. Ini masih kita konsolidasikan," kata dia.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) ESDM Tri Winarno mengatakan produksi nikel dunia telah mencapai over suplay, pada tingkat produksi pada 350-400 wmt. Dengan begitu, pihaknya tengah mengatur pemangkasan produksi bijih tahun ini untuk Indonesia, sebagai produsen terbesar di dunia.

"Tapi tujuannya jelas. Ini kalau nikel kan over 350-400-an ton, dunia loh ya. Jadi kita ya mesti menghemat lah, jangan di saat harga rendah kita jual jor-joran. Tapi pada saat harga tinggi kita udah kehabisan," kata Tri.

Lebih lanjut, Tri menyebut bahwa saat ini kebutuhan pabrik pemurnian nikel berada pada angka 290 wmt. Sehingga berpotensi melakukan impor untuk pemenuhan tahun ini.

"Kalau kapasitas sesuai dengan pabrik 290 (juta ton), sesuai dengan pabrik ya. Nanti seperti apa kita ini (kita lihat hasil akhirnya)," tambah Tri.

"Kalau impor, saya rasa gak ada masalah. Berarti membuktikan bahwa hilirisasi kita ada. Iya, tapi kita upayakan enggak (tidak impor)," tutupnya. 

Baca Juga: Waskita Karya (WSKT) Garap Proyek Sekolah Rakyat di Aceh, Nilainya Rp 757,05 Miliar

Selanjutnya: Bantu Korban Bencana, Bank Mandiri Bangun Huntara Danantara di Aceh Tamiang

Menarik Dibaca: Inspirasi Menata Garasi Rumah biar Lebih Rapi, Fungsional dan Mudah Dirawat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×