kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.570.000   20.000   0,78%
  • USD/IDR 18.202   17,00   0,09%
  • IDX 5.282   16,18   0,31%
  • KOMPAS100 686   3,41   0,50%
  • LQ45 539   6,45   1,21%
  • ISSI 177   -2,03   -1,14%
  • IDX30 303   3,34   1,12%
  • IDXHIDIV20 406   6,22   1,56%
  • IDX80 79   0,40   0,52%
  • IDXV30 112   0,64   0,58%
  • IDXQ30 102   1,33   1,33%

Freeport Indonesia Catat Penurunan Penjualan dan Produksi hingga Kuartal III-2026


Rabu, 28 Oktober 2026 / 15:02 WIB
Freeport Indonesia Catat Penurunan Penjualan dan Produksi hingga Kuartal III-2026
ILUSTRASI. Puncak Grasberg PT Freeport. PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatatkan penurunan produksi dan volume penjualan tembaga serta emas selama sembilan bulan pertama 2026.(KONTAN/Titis Nurdiana)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatatkan penurunan produksi dan volume penjualan tembaga serta emas selama sembilan bulan pertama 2026.

Mengacu laporan induk usahanya, Freeport-McMoRan (FCX) pada Senin (27/10/2026), produksi tembaga dari operasi Freeport di Indonesia turun 43,2% secara tahunan menjadi 549 juta pon pada Januari–September 2026, dari 966 juta pon pada periode yang sama tahun lalu.

Produksi emas juga merosot 42,4% menjadi 505.000 ons, dibandingkan 876.000 ons pada Januari–September 2025.

Dari sisi penjualan, volume penjualan tembaga turun 64,5% menjadi 388 juta pon, dari sebelumnya 1,09 miliar pon. Sementara itu, penjualan emas menyusut 65,9% menjadi 332.000 ons, dibandingkan 975.000 ons pada periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Freeport: Peningkatan Produksi Tambang Grasberg Berjalan Sesuai Rencana

Kendati, di tengah penurunan produksi dan penjualan, harga jual rata-rata tembaga dan emas meningkat.

Berdasarkan laporan FCX, harga jual rata-rata tembaga pada Januari–September 2026 mencapai US$ 6,21 per pon, naik dari US$ 4,42 per pon pada periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, harga jual rata-rata emas meningkat menjadi US$ 4.583 per ons, dari US$ 3.357 per ons pada Januari–September 2025.

FCX melaporkan, PTFI terus meningkatkan produksi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave setelah insiden aliran lumpur eksternal pada September 2025.

Pada kuartal III-2026, volume pengolahan bijih rata-rata mencapai 141.000 metrik ton per hari atau sekitar 67% dari kapasitas. Angka tersebut mencakup 70.000 metrik ton bijih per hari dari tambang Grasberg Block Cave.

PTFI menargetkan operasional mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027.

"PTFI masih memperkirakan operasional akan mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027," terang laporan FCX.

Baca Juga: Smelter Freeport di Gresik Beroperasi Bulan Ini, Produksi 5.000 Ton Katoda Tembaga

Perusahaan juga telah memulai kembali produksi di Blok Produksi 2 dan 3 pada akhir Maret 2026.

Sementara itu, peningkatan sistem penanganan bijih ditargetkan rampung pada awal 2027, disusul rencana pengoperasian kembali Blok Produksi 1S pada pertengahan 2027.

Pemulihan produksi tambang turut memengaruhi operasional fasilitas pengolahan dan pemurnian. PT Smelting kembali beroperasi pada akhir 2025, sedangkan fasilitas peleburan milik PTFI mulai beroperasi kembali pada akhir Agustus 2026.

FCX memperkirakan selisih antara volume produksi dan penjualan PTFI masih akan relatif tinggi hingga fasilitas pengolahan dan pemurnian hilir kembali beroperasi pada tingkat normal.

Pengembangan Tambang

Di tengah pemulihan operasional, PTFI melanjutkan pengembangan proyek tambang bawah tanah Kucing Liar di kawasan Grasberg, Papua.

FCX menyebut, proyek tersebut direncanakan mulai meningkatkan produksi sekitar 2030 hingga mencapai kapasitas desain 130.000 metrik ton bijih per hari. Namun, jadwal awal pengoperasiannya masih dalam peninjauan.

Pada kapasitas penuh, Kucing Liar diperkirakan menghasilkan sekitar 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun.

"Proyek ini akan mendukung keberlanjutan produksi berskala besar di kawasan mineral Grasberg," tulis laporan FCX.

Hingga 30 September 2026, investasi PTFI untuk pengembangan proyek tersebut mencapai sekitar US$ 1,6 miliar. Adapun kebutuhan belanja modal tambahan hingga 2033 diperkirakan sekitar US$ 4 miliar, atau rata-rata US$ 500 juta per tahun.

Baca Juga: Freeport Indonesia Targetkan Smelter Gresik Beroperasi Kembali di Akhir Agustus 2026

Selain pengembangan tambang, PTFI juga melanjutkan proses perpanjangan hak operasi pertambangan di kawasan Grasberg.

Pada Februari 2026, FCX dan PTFI menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah Indonesia terkait perpanjangan hak operasi melampaui masa berlaku saat ini yang berakhir pada 2041.

Berdasarkan MoU tersebut, FCX akan mempertahankan kepemilikan saham sebesar 48,76% di PTFI hingga 2041. Porsi kepemilikan itu direncanakan menjadi sekitar 37% mulai 2042.

PTFI disebut telah mengajukan permohonan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) pada Juni 2026. Saat ini, FCX dan PTFI masih berkoordinasi dengan pemerintah untuk menyelesaikan proses perizinan formal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×