Reporter: Agung Hidayat | Editor: Rizki Caturini
KONTAN.CO.ID - Sekjen Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM), Hadi Suryadipradja menyoroti pandangan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Warih Andang Tjahjono yang mengatakan bahwa lokal konten industri otomotifnya sudah mencapai 85%.
"Karena cara hitungnya lain, saya khawatir added value lokal sebenarnya baru 40%," ujar Hadi di acara Seabad Industri Otomotif Indonesia yang diselenggarakan Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI), Selasa (29/8).
Hal ini karena onderdil kendaraan bermotor di dalam negeri juga masih diproduksi menggunakan bahan baku impor. Selain itu, Hadi menambahkan bahwa garansi yang diberikan produsen mobil 3 tahun-5 tahun, terkadang bertolakbelakang dengan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) masing-masing produk onderdil.
"Ini tentu menyulitkan suplai ke industri otomotif, di mana setiap pabrik punya standar masing-masing," sebutnya.
Bahan baku onderdil diakui Hadi kebanyakan berasal dari negara Non ASEAN seperti Korea Selatan, Jepang dan China. Suplai barang impor tersebut dinilai Hadi lebih murah ketimbang dalam negeri.
"Subtitusi barang impor itu harus. Tapi kebijakan harus balance kalau tidak ada added value lokal gak bakal ada industrinya," tekan Hadi. Industri komponen, menurutnya, tetap bisa berkompetisi sepanjang menjaga volume produksinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













