kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Hadapi MEA, pemerintah menjanjikan insentif fiskal


Rabu, 09 Juli 2014 / 09:20 WIB
Hadapi MEA, pemerintah menjanjikan insentif fiskal
ILUSTRASI. PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk yang akan melantai di bursa ini memiliki banyak daya tarik bagi para investor.


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Menteri Perindustrian Muhammad Suleman Hidayat menyatakan telah merencanakan insentif fiskal bagi industri dalam negeri untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Namun rencana itu masih belum mendapatkan persetujuan menteri keuangan.

"Insentif fiskal itu sedang kami bicarakan dengan Kementerian Keuangan," terang Hidayat kepada KONTAN, Senin (7/7) tanpa memerinci apa bentuk insentifnya.

Selain rencana insentif fiskal, Hidayat menyatakan akan menggunakan program kampanye Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk melindungi industri dalam negeri dalam menghadapi MEA 2015. "Ini strategi defensif. Kami memanfaatkan dan mengamankan pasar dalam negeri lewat program P3DN dan SNI," ujar Hidayat.

Sebelumnya, KONTAN memberitakan, pemerintah memiliki dua strategi untuk menghadapi MEA 2015. Pertama, strategi ofensif, yakni strategi menyerang guna memperluas pasar industri ke luar negeri. Strategi ini berlaku bagi 31% produk industri nasional yang memiliki daya saing di pasar ASEAN, yaitu industri karet, tekstil, makanan dan minuman serta otomotif.

Kedua, strategi defensif. Strategi ini untuk mempertahankan pasar industri dalam negeri. Strategi ini berlaku bagi 69% industri yang kesulitan bersaing dengan produk ASEAN. Kelompok industri ini adalah garmen, alas kaki, semen dan keramik. Kelompok industri tersebut saat ini tengah kesulitan menghadapi persaingan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×