kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.860.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.127   21,00   0,12%
  • IDX 7.458   150,91   2,07%
  • KOMPAS100 1.029   19,80   1,96%
  • LQ45 746   12,57   1,71%
  • ISSI 269   4,55   1,72%
  • IDX30 400   7,29   1,85%
  • IDXHIDIV20 490   9,98   2,08%
  • IDX80 115   1,84   1,62%
  • IDXV30 135   1,86   1,40%
  • IDXQ30 129   2,36   1,86%

Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran, Produksi Melimpah dan Serapan Melemah


Minggu, 12 April 2026 / 11:49 WIB
Harga Ayam Hidup Anjlok Usai Lebaran, Produksi Melimpah dan Serapan Melemah
ILUSTRASI. Usai Lebaran, Harga Ayam Hidup Anjlok di Bawah Biaya Produksi (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga ayam hidup (livebird) di sejumlah sentra produksi mengalami tekanan usai Lebaran. Penurunan ini terutama terjadi di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, dengan harga mendekati bahkan berada di bawah biaya produksi peternak.

Menurut Kementerian Pertanian, pelemahan harga tersebut tidak terlepas dari pola konsumsi dan produksi yang bersifat musiman. Konsumsi ayam hidup biasanya meningkat menjelang Lebaran hingga hari H seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas masyarakat.

“Terjadi peningkatan konsumsi ayam hidup sekitar satu minggu menjelang Lebaran hingga hari H, seiring tingginya aktivitas masyarakat dan arus mudik di wilayah tersebut. Kondisi ini pada umumnya telah diprediksi oleh pelaku usaha, sehingga pada 1–2 bulan sebelumnya banyak peternak melakukan peningkatan chick in untuk memenuhi kebutuhan tersebut,” jelas perwakilan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian kepada Kontan, Minggu (12/4).

Baca Juga: Harga Ayam Hidup Melemah Pasca-Lebaran, Pemerintah Panggil Produsen DOC dan Pakan

Namun setelah Lebaran, permintaan cenderung turun sementara pasokan ayam hidup masih melimpah di kandang. Selain itu, peternak musiman yang ikut melakukan budidaya menjelang Lebaran turut mendorong peningkatan produksi.

“Pada periode yang sama, tidak hanya peternak eksisting, tetapi juga peternak musiman turut melakukan budidaya, yang pada akhirnya mendorong peningkatan produksi secara signifikan. Namun demikian, pasca Lebaran terjadi arus balik yang diikuti dengan penurunan konsumsi dan serapan pasar, sementara stok ayam hidup masih tersedia di kandang,” ungkapnya.

Pemerintah menyebut fenomena ini bukan hal baru, melainkan pola musiman yang kerap berulang setiap tahun. Karena itu, pelaku usaha diharapkan mampu menyesuaikan produksi agar lebih sejalan dengan permintaan.

“Fenomena ini merupakan pola musiman yang berulang setiap tahun, sehingga ke depan pelaku usaha diharapkan dapat mengantisipasi melalui perencanaan produksi yang lebih terukur dan selaras dengan dinamika permintaan pasar,” tambahnya.

Untuk menahan pelemahan harga, Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH melakukan koordinasi dengan pelaku usaha pembibitan dan budidaya guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan.

“Kementerian Pertanian melalui Ditjen PKH terus melakukan langkah stabilisasi melalui penguatan komunikasi dan koordinasi dengan pelaku usaha pembibitan dan budidaya untuk menjaga keseimbangan supply–demand, penyesuaian produksi di hulu termasuk pengendalian setting dan chick in secara lebih terukur, serta optimalisasi penyerapan pasar melalui pemanfaatan cold storage dan distribusi ke wilayah yang membutuhkan,” jelasnya.

Kementan mencatat harga ayam hidup mulai menunjukkan perbaikan. Saat ini, berdasarkan pemantauan di lapangan, harga livebird mulai menunjukkan perbaikan, dengan harapan dalam waktu dekat dapat bergerak menuju kisaran minimal Rp19.000/kg pada ukuran 2 kg Up. 

"Selain itu, stok di cold storage mulai berkurang dan serapan pasar mulai berjalan kembali,” tambahnya.

Ke depan, pemerintah akan memperkuat tata kelola produksi melalui pengaturan pola replacement bibit dan pengendalian produksi yang lebih terencana. 

"Ke depan, pemerintah mendorong perbaikan tata kelola produksi perunggasan melalui pengaturan pola replacement bibit (GPS dan PS) oleh perusahaan pembibitan agar distribusinya lebih merata sepanjang tahun, perencanaan produksi berbasis pola konsumsi khususnya pada momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), serta peningkatan disiplin produksi di tingkat budidaya,” tuturnya.

Pemerintah juga mengimbau pelaku usaha untuk menyesuaikan kapasitas produksi dengan kondisi pasar. 

"Kami mengimbau seluruh pelaku usaha untuk menjalankan budidaya secara lebih terukur dan rasional, menyesuaikan dengan dinamika permintaan pasar, sehingga keseimbangan supply demand dapat terjaga dan harga tetap stabil,” pungkasnya.

Baca Juga: Efisiensi Energi Dapur Dinilai Jadi Kunci Tekan Pengeluaran Rumah Tangga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×