kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.754.000   -31.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.853   30,00   0,17%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Begini Jawaban dari PLN


Kamis, 28 Mei 2026 / 16:21 WIB
Jaringan Transmisi Sumatra Jadi Sorotan Pasca Blackout, Begini Jawaban dari PLN
ILUSTRASI. PLN terus evaluasi menyeluruh jaringan Sumatra pasca blackout.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemadaman listrik dalam skala luas alias blackout yang melanda Sumatra memantik sorotan terhadap keandalan jaringan transmisi milik PT PLN (Persero). Sejumlah pihak menuntut agar perusahaan listrik pelat merah ini segera memperkuat sistem dan jaringan transmisi di Sumatra.

Menanggapi hal tersebut, Executive Vice President Komunikasi Korporat & Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN Gregorius Adi Trianto menyatakan bahwa PLN terus melakukan evaluasi menyeluruh, pengembangan berkelanjutan, serta mempercepat penguatan sistem kelistrikan di Sumatra. Khususnya dari sisi jaringan transmisi dan keandalan antar subsistem.

Strategi PLN berfokus pada pengembangan tulang punggung (backbone) sistem kelistrikan Sumatra melalui penguatan jaringan transmisi 150 kilovolt (kV), 275 kV, hingga 500 kV sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Pengembangan backbone ini bertujuan menghubungkan pusat-pusat pembangkit besar di berbagai provinsi ke dalam satu sistem interkoneksi Sumatra agar lebih kuat dan fleksibel. 

Baca Juga: Program B50 Disebut Bisa Hemat Devisa Indonesia hingga Rp 154 Triliun

"Dengan sistem interkoneksi yang semakin terhubung, maka kemampuan transfer daya antarwilayah akan meningkat dan masing-masing subsistem di tiap provinsi dapat saling menopang ketika terjadi gangguan," kata Greg saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (28/5/2026).

Greg menjelaskan, jaringan 150 kV berperan sebagai tulang punggung penyaluran daya ke pusat-pusat beban utama dan ibu kota provinsi di Sumatra. Pengembangan jaringan 150 kV ini difokuskan untuk memperkuat pasokan dan keandalan kota besar.

Jaringan 275 kV difungsikan sebagai backbone interkoneksi koridor barat dan timur Sumatra yang mendukung transfer daya antar subsistem serta memperkuat keandalan regional. Jaringan ini juga menjadi jalur penting untuk mengevakuasi potensi Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Sumatra Bagian Utara.

Sedangkan jaringan 500 kV dikembangkan sebagai backbone utama Sistem Interkoneksi Sumatra di koridor timur untuk penyaluran daya skala besar antar daerah dengan efisiensi tinggi. Infrastruktur ini memperkuat stabilitas sistem dari Sumatra Selatan hingga Sumatra Utara, serta menjadi jalur utama integrasi EBT di masa depan.

Greg mengungkapkan bahwa saat ini sebagian jalur backbone 275 kV maupun 500 kV di Sumatra telah beroperasi dan menjadi bagian penting dalam sistem interkoneksi Sumatra.

"Sejumlah infrastruktur lainnya masih berjalan secara bertahap sesuai tahapan konstruksi dan kesiapan sistem," ungkap Greg.

Greg pun membeberkan kelanjutan proyek transmisi 500 kV Paket III Sumatra untuk jalur Muara Enim–Perawang. Dia menyatakan, saat ini pekerjaan tetap dilanjutkan oleh PLN. Beberapa bagian jalur sebelumnya telah selesai dan beroperasi, sementara sebagian lainnya masih dalam proses penyelesaian secara bertahap.

Baca Juga: Transformasi Digital UMKM Membutuhkan Dukungan Infrastruktur Jaringan yang Andal

"PLN memastikan infrastruktur strategis ini tetap menjadi bagian penting dalam pengembangan backbone kelistrikan Sumatra guna mendukung peningkatan keandalan sistem interkoneksi Sumatra secara keseluruhan," kata Greg.

Dia menambahkan, jaringan transmisi dikembangkan untuk memperkuat sistem kelistrikan lokal dan regional. Khususnya dalam mendukung program dedieselisasi, integrasi pembangkit baru skala kecil-menengah, meningkatkan keandalan sistem, pengurangan bottleneck penyaluran, perbaikan kualitas tegangan, serta fleksibilitas operasi di wilayah tersebar.

Di sisi lain, Greg menyatakan bahwa pengembangan jaringan transmisi tersebut akan didukung implementasi jaringan tenaga listrik cerdas (smart grid) secara bertahap sesuai roadmap RUPTL 2025–2034.

Program ini dilakukan melalui modernisasi sistem distribusi, digitalisasi operasi jaringan, hingga penguatan monitoring dan kendali sistem secara real time.

Keandalan Jaringan Transmisi Jadi Sorotan

Pasca blackout yang melanda Sumatra pada akhir pekan lalu, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen, Muhammad Kholid Syeirazi menyoroti kerentanan sistem interkoneksi Sumatra. Terutama pada transmisi backbone, proteksi sistem, dan kemampuan isolasi gangguan agar tidak menjalar menjadi blackout regional.

Kholid menduga, blackout Sumatra bukan semata hanya karena faktor cuaca, melainkan ada persoalan struktural dari sisi keandalan sistem jaringan kelistrikan.

"Dalam sistem kelistrikan besar, cuaca ekstrem memang bisa memicu gangguan. Tetapi kalau satu gangguan transmisi langsung menyebabkan blackout lintas provinsi, problemnya mungkin bukan sekadar cuaca, tapi masalah struktural terkait keandalan sistem interkoneksi," kata Kholid kepada Kontan.co.id, Rabu (27/5/2026).

Sementara itu, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha, memberikan tiga catatan untuk memperkuat jaringan kelistrikan di Sumatra agar blackout tidak berulang kembali.

Pertama, menyelesaikan jaringan backbone 500 kV atau yang juga dikenal sebagai proyek "tol listrik" Sumatra.

Baca Juga: Hyundai Tetap Optimistis Meski Insentif EV Mundur ke Juli 2026

RUPTL 2025-2034 sudah merencanakan pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kV koridor timur yang membentang dari Sumatra Selatan (Muara Enim) hingga Sumatra Utara (Galang).

"Jalur ini berfungsi seperti "tol listrik" yang kapasitasnya sangat besar. Tol Listrik 500 kV Sumatra sudah ada dan sebagian beroperasi, tetapi ruas tengah yang paling vital masih tertunda," kata Satya.

Kedua, DEN mendorong penambahan gardu induk dan transformator daya di titik-titik yang berpotensi menyebabkan kemacetan aliran listrik (bottleneck). Hal ini penting untuk memenuhi kriteria keandalan "N-1": jika satu sirkuit padam, sirkuit lain masih mampu menanggung beban.

Ketiga, Satya menekankan pentingnya interkoneksi ke Batam. Interkoneksi 500 kV dari Sumatra ke Batam yang juga telah direncanakan dalam RUPTL akan memperkuat sistem Sumatra secara keseluruhan dan membuka peluang pengembangan listrik EBT.

Energy Finance Specialist Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Indonesia, Randi Bachtiar turut menyoroti bahwa dalam RUPTL 2021–2030 maupun RUPTL 2025–2034 PLN sudah menempatkan backbone 500 kV Sumatra sebagai proyek strategis. Tetapi sebagian proyek masih mengalami keterlambatan, reroute, penyesuaian operasi komersial, hingga pengadaan ulang, sementara penyelesaiannya terus bergeser.

Randi menegaskan, percepatan backbone 500 kV dan penguatan redundansi sistem menjadi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada koridor kritikal tertentu. Pembangunan backbone transmisi 500 kV di Sumatra sangat urgen karena bukan hanya berkaitan dengan kapasitas transfer daya, tetapi juga keandalan dan ketahanan sistem. 

Baca Juga: Aismoli Khawatir Penundaan Insentif EV Tekan Penjualan Motor Listrik

"Blackout kemarin menunjukkan risiko pada sistem interkoneksi besar tidak lagi bersifat teoritis. Sistem Sumatra masih memiliki ketergantungan tinggi pada koridor transmisi backbone tertentu, sehingga gangguan pada satu koridor kritikal dapat memicu dampak luas apabila sistem belum memiliki redundansi dan margin stabilitas yang memadai," tegas Randi.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa punya catatan serupa. IESR mendesak PLN mempercepat penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik. Termasuk peningkatan redundansi sistem, modernisasi proteksi grid, pengembangan smart grid, serta investasi pada sistem pengendalian dan fleksibilitas jaringan. 

Kebutuhan terhadap sistem transmisi dan distribusi yang kuat, fleksibel, dan resilien semakin penting seiring meningkatnya elektrifikasi sektor transportasi dan industri, pertumbuhan pusat data, serta penetrasi energi terbarukan.

Di sisi lain, IESR mengimbau agar masyarakat, khususnya konsumen segmen residensial dan bisnis mulai menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang didukung Battery Energy Storage System (BESS).

Kombinasi tersebut dapat membantu meningkatkan ketahanan pasokan listrik pelanggan serta mengurangi kerugian akibat pemadaman. Apalagi, biaya penggunaan genset saat ini akan membengkak seiring dengan lonjakan harga solar. 

"(Biaya) PLTS dan BESS sudah semakin terjangkau, hitungan kami cukup kompetitif dibandingkan dengan menjalankan diesel dan gas. Penggunaan PLTS Atap dan BESS juga mengurangi risiko kerugian ekonomi yang lebih besar saat terjadi pemadaman dalam jangka waktu lama," ungkap Fabby.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×