Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai September 2026 belum menjadi ancaman langsung bagi tarif jasa logistik.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menilai biaya operasional pelaku usaha logistik masih relatif terlindungi karena sebagian besar armada menggunakan solar subsidi.
Baca Juga: MHU Dorong Ekonomi Desa Tumbuh Mandiri Lewat 4 Inisiatif
Sekretaris Jenderal ALFI Trismawan Sanjaya mengatakan, kenaikan harga BBM non-subsidi belum memberikan dampak signifikan terhadap biaya operasional perusahaan logistik secara umum.
"Dampak kenaikan harga BBM non-subsidi lebih banyak pada harga pokok produksi industri manufaktur dan pertambangan," jelas Trismawan kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).
Dengan kondisi tersebut, ALFI menilai belum ada alasan bagi pelaku usaha untuk segera menaikkan tarif jasa logistik hanya karena adanya kenaikan harga BBM non-subsidi.
Menurut Trismawan, pelaku usaha logistik tetap akan memantau perkembangan biaya operasional, terutama apabila kenaikan harga BBM nantinya berdampak lebih luas terhadap biaya distribusi dan kegiatan industri.
Baca Juga: Penyaluran B50 Capai 80%, Evaluasi dan Distribusi Terus Dikebut
Siapkan Strategi Efisiensi
Meski dampaknya saat ini masih terbatas, pelaku usaha logistik telah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi potensi kenaikan biaya bahan bakar ke depan.
Salah satunya dengan meningkatkan efisiensi biaya di internal perusahaan. Selain itu, pelaku usaha juga mulai mencari teknologi konversi energi alternatif untuk mendukung armada operasional maupun peralatan pendukung.
"Jika diperlukan, kemudian terakhir juga menyusun proposal penyesuaian tarif layanan logistik kepada pengguna jasanya," imbuh Trismawan.
Artinya, penyesuaian tarif jasa logistik masih menjadi opsi apabila kenaikan biaya bahan bakar dan komponen operasional lainnya sudah memberikan tekanan yang signifikan terhadap biaya usaha.
Baca Juga: KEK Industropolis Batang Dorong SDM Industri Siap Kerja
Bisnis Logistik Masih Bertahan
Sementara itu, ALFI tetap optimistis terhadap prospek bisnis logistik hingga akhir 2026, meskipun pelaku usaha menghadapi dinamika ekonomi global dan domestik.
Trismawan menilai kebutuhan terhadap jasa logistik masih akan tetap ada seiring aktivitas perpindahan barang yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok ekonomi.
Menurutnya, sektor logistik masih memiliki ruang pertumbuhan selama perpindahan barang secara fisik belum dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi digital.
"Bisnis logistik akan tetap bertahan selama perpindahan barang belum dapat dilakukan secara digital seperti perpindahan data dan uang," tandas Trismawan.
Baca Juga: Pertamina Rampungkan Restrukturisasi Bisnis Hilir Tahap Kedua
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














