kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

Harga Minyak Tembus US$100, AirAsia Soroti Beban Biaya Bahan Bakar Maskapai


Senin, 09 Maret 2026 / 16:55 WIB
Harga Minyak Tembus US$100, AirAsia Soroti Beban Biaya Bahan Bakar Maskapai
ILUSTRASI. Pesawat AirAsia (Dok/AirAsia)


Reporter: Leni Wandira | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dunia yang menembus di atas US$100 per barel menjadi perhatian industri penerbangan. Indonesia AirAsia (CMPP) menyebut bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam operasional maskapai.

Head of Indonesia Affairs & Policy Indonesia AirAsia Eddy Krismeidi mengatakan pihaknya terus memantau dinamika harga minyak global karena berdampak langsung pada struktur biaya maskapai.

“Indonesia AirAsia menyampaikan bahwa kenaikan harga minyak dunia merupakan dinamika yang terus dipantau secara cermat oleh industri penerbangan, mengingat bahan bakar merupakan salah satu komponen biaya operasional terbesar bagi maskapai,” ujarnya kepada Kontan Senin (9/3).

Menurut Eddy, secara umum porsi biaya bahan bakar dalam industri penerbangan dapat mencapai sekitar 30% hingga 40% dari total biaya operasional, tergantung pada pergerakan harga minyak global.

Baca Juga: Awas e-Meterai Ilegal! Sistem DJP Kini Otomatis Deteksi Nomor Seri Ganda

“Secara umum, biaya bahan bakar dapat mencapai sekitar 30–40% dari total biaya operasional, tergantung pada pergerakan harga minyak global,” jelasnya.

Ia menambahkan kondisi tersebut memang menjadi tantangan bagi industri penerbangan. Meski demikian, AirAsia tetap berupaya menjaga operasional tetap aman dan andal sekaligus menghadirkan tarif yang kompetitif bagi masyarakat.

Sebagai maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC), AirAsia mengandalkan model bisnis yang berfokus pada efisiensi operasional

“Sebagai maskapai berbiaya rendah, Indonesia AirAsia mengandalkan model bisnis yang menitikberatkan pada efisiensi operasional,” katanya.

Efisiensi tersebut dilakukan melalui pemanfaatan armada yang efisien, optimalisasi utilisasi pesawat, serta pengelolaan jaringan rute yang dinamis sesuai permintaan pasar. 

Selain itu, perusahaan juga terus meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar melalui optimalisasi operasional penerbangan serta pengelolaan risiko harga energi dengan strategi yang terukur.

Terkait kemungkinan penyesuaian tarif penerbangan, AirAsia menyebut keputusan tersebut akan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk perkembangan harga energi global dan kondisi pasar.

“Indonesia AirAsia akan terus memonitor perkembangan harga energi global serta mempertimbangkan berbagai faktor operasional dan kondisi pasar. Prioritas kami adalah tetap menjaga keterjangkauan tarif bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan setiap kebijakan yang diambil akan mengikuti ketentuan dan regulasi dari otoritas terkait, dengan tetap berupaya menyediakan pilihan perjalanan udara yang efisien dan terjangkau bagi masyarakat.

"Setiap kebijakan yang diambil tentunya akan mengikuti ketentuan dan regulasi dari otoritas terkait, dengan tetap berupaya menyediakan pilihan perjalanan udara yang efisien dan terjangkau bagi masyarakat," pungkasnya.

Baca Juga: Pertamina Hulu Kaltim Genjot Produksi Lewat Pengeboran Sumur Infill

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×