kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45956,61   8,16   0.86%
  • EMAS1.017.000 0,30%
  • RD.SAHAM -0.04%
  • RD.CAMPURAN -0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga TBS Rata-rata Masih di Bawah Rp 2.000 Per Kilogram, Begini Respons Petani


Selasa, 11 Oktober 2022 / 18:39 WIB
Harga TBS Rata-rata Masih di Bawah Rp 2.000 Per Kilogram, Begini Respons Petani
ILUSTRASI. Petani mengumpulkan buah sawit hasil panen di perkebunan Mesuji Raya, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Senin (9/5/2022). ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/pras.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung menyampaikan, harga minyak goreng (migor) saat ini dapat dikatakan sudah di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dan stabil.

Namun, harga rata-rata tandan buah segar (TBS) yang dibeli pabrik kelapa sawit (PKS) untuk petani swadaya masih Rp 1.800 per kilogram, dan petani bermitra Rp 2.048 per kilogram. Harga tersebut masih di bawah harga dari Dinas Perkebunan yakni Rp 2.128.

"Harga TBS 3-8 Oktober memang naik tipis dibanding 1 minggu sebelumnya. Idealnya berdasarkan harga CPO, harga TBS seharusnya Rp 2.600-Rp 2.750 per kilogram," kata Gulat kepada Kontan.co.id, Selasa (11/10).

Ia menyebut, penyebab masih belum bagusnya harga TBS, lantaran PKS masih ingin memperoleh untung lebih dari yang seharusnya.

Baca Juga: Masuk Musim Tanam, BISI Kebut Penjualan, Begini Strategi dan Targetnya

"Karena masih diberlakukannya DMO, yang dianggap berakibat ketidakpastian jadwal ekspor CPO dan turunannya karena wajib memenuhi 1 baru bisa ekspor 9 (1:9)," jelasnya.

Kemudian penyebab lainnya menurut Gulat ialah PKS, refinary dan eksportir masih menunggu kebijakan pemerintah mengenai kebijakan bebas levy yang akan diperpanjang atau tidak.

Kondisi tersebut menyebabkan daya beli petani semakin merosot terutama dalam menjangkau pupuk. Ia menjelaskan petani sawit praktis tidak memupuk (65%), atau memupuk tapi hanya setengah dosis (25%), dan 10% memupuk tapi menggunakan pupuk organik atau pupuk yang tidak jelas kualitasnya. Kondisi ini sudah berlangsung sejak 6 bulan lalu.

Gulat mengungkapkan, hal tersebut dinilai sangat berbahaya karena akan mempengaruhi produktivitas kebun sawit rakyat. 

"Dan diperkirakan mulai pertengahan tahun depan produktivitas kebun sawit rakyat akan anjlok sampai 40% sebagai dampak perilaku pemupukan kebun sawit rakyat," imbuhnya.

Untuk mendorong harga TBS, Apkasindo menyarankan pemerintah segera memberikan kepastian dengan menerbitkan regulasi mengenai bebas levy apakah diperpanjang atau tidak. Kemudian pemerintah diminta untuk mempercepat implementasi B35 atau B40. Dan pemerintah juga disarankan melakukan penghapusan atau relaksasi domestic market obligation (DMO).

Baca Juga: Dorong Kemandirian Pangan Lokal, ID FOOD Perluas Ekosistem Peternakan Bali

"Hapus DMO atau paling tidak relaksasi DMO jadi 1:12. Dan percepatan revisi Permentan 01/2018, karena sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini dan hal ini sangat merugikan petani sawit," jelasnya.

Pemerintah diminta melakukan evaluasi beban-beban TBS petani saat perhitungan harga TBS di Disbun. Misalnya saja untuk biaya pemasaran, biaya penyusutan, dan biaya operasional tak langsung (BOTL). Gulat menilai semua biaya tersebut sangat memberatkan dan menekan harga TBS Petani.

"[Biaya-biaya itu] sesungguhnya tidak diperlukan hanya menguntungkan pihak korporasi. Totalnya bisa mencapai Rp 300-Rp 500/kg TBS," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×