Reporter: Leni Wandira | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat industri kendaraan niaga nasional di tengah meningkatnya arus impor truk asal China.
Setelah 43 tahun beroperasi di Indonesia, Hino menilai keberlanjutan industri lokal perlu dijaga melalui investasi manufaktur, peningkatan kandungan lokal, serta penguatan ekosistem rantai pasok dalam negeri.
Direktur PT HMMI Harianto Sariyan mengatakan, Hino saat ini mengoperasikan fasilitas produksi terintegrasi seluas 296.000 meter persegi dengan luas bangunan lebih dari 169.000 meter persegi, serta didukung 1.548 tenaga kerja.
Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 75.000 unit per tahun untuk segmen light duty truck, medium duty truck, hingga bus.
Baca Juga: Hino Perkuat Posisi di Segmen Medium Duty Truck, Pangsa Pasar Naik Jadi 56% pada 2025
“TKDN produk Hino sudah di atas 40% dan ditambah Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) 14,10%. Ini bagian dari strategi jangka panjang kami untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal dan penguatan supplier dalam negeri,” ujar Harianto di pabrik HMMI, di Purwakarta, Rabu (21/1/2026).
Namun, tekanan dari maraknya truk impor mulai terasa pada utilisasi pabrik. Harianto menyebut tingkat pemanfaatan kapasitas produksi Hino rata-rata berada di kisaran 35%–40% per tahun, bahkan turun menjadi sekitar 25% pada 2025 yang dinilainya sebagai tahun paling sulit bagi industri.
“Kalau impor itu cukup dengan satu kantor dan puluhan karyawan bisa mendatangkan belasan ribu unit setahun. Sementara industri manufaktur melibatkan ribuan pekerja dan rantai pasok panjang. Ini tantangan serius bagi industri nasional,” katanya.
Dari sisi pasar, Supply Chain, Marketing & Communication Division Head HMSI Wibowo Santoso menilai volume truk China yang masuk ke Indonesia hampir setara dengan jumlah truk yang diproduksi Hino pada 2025. Ia menyoroti adanya disparitas perlakuan fiskal antara produk impor dan produksi lokal.
“Produk impor bisa masuk dengan beban biaya yang jauh lebih ringan, sementara kami membeli baja saja dikenakan bea masuk 5%–10%. Ini tentu membuat produk lokal tertekan,” ujar Wibowo.
Hino, lanjutnya, telah menyampaikan kondisi tersebut kepada Kementerian Perindustrian. Menurut Wibowo, pemerintah tengah mengkaji kebijakan untuk menjaga keseimbangan antara iklim persaingan dan keberlanjutan industri manufaktur nasional.
Meski demikian, Hino menegaskan tetap terbuka terhadap persaingan. Namun perseroan berharap ada diferensiasi kebijakan antara produk impor dan produksi lokal agar industri nasional tidak semakin tergerus.
Baca Juga: Jaga Kualitas Armada, Pertamina Patra Niaga Gandeng Hino
“Persaingan itu wajar. Tapi kalau beban regulasi dan biaya hanya ditanggung produk lokal, industri bisa berhenti. Padahal bukan hanya Hino, ada ratusan ribu tenaga kerja di rantai pasok yang bergantung pada sektor ini,” katanya.
Selain memenuhi pasar domestik, Hino juga menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor. Sejak 2011, Hino Indonesia mengekspor kendaraan CBU, CKD, dan komponen ke berbagai negara seperti Vietnam, Filipina, Bolivia, Haiti, Papua Nugini, Thailand, Malaysia, Pakistan, Taiwan, hingga Jepang.
Ke depan, Hino memproyeksikan pasar kendaraan niaga 2026 cenderung stagnan hingga sedikit menurun, seiring melemahnya sektor tambang dan penyesuaian kuota produksi mineral.
Namun perseroan tetap berkomitmen menjaga investasi manufaktur dan mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada industri dalam negeri di tengah derasnya arus truk impor China.
Selanjutnya: Terancam Sanksi FIFA, Jajaran Pimpinan FAM Dikabarkan Mundur Massal
Menarik Dibaca: Hujan Sangat Deras di Provinsi Ini, Simak Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (22/1)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













