kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.837.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.017   26,00   0,15%
  • IDX 7.092   -5,39   -0,08%
  • KOMPAS100 977   0,13   0,01%
  • LQ45 717   -1,48   -0,21%
  • ISSI 252   2,66   1,07%
  • IDX30 389   -2,31   -0,59%
  • IDXHIDIV20 489   0,39   0,08%
  • IDX80 110   0,25   0,22%
  • IDXV30 136   2,13   1,58%
  • IDXQ30 127   -0,98   -0,77%

ICA-CEPA Buka Peluang Besar Ekspor Hasil Laut Indonesia ke Pasar Kanada


Minggu, 28 September 2025 / 13:38 WIB
ICA-CEPA Buka Peluang Besar Ekspor Hasil Laut Indonesia ke Pasar Kanada
ILUSTRASI. Sejumlah produk Indonesia akan langsung menikmati tarif 0% ke Kanada berkat perjanjian dagang ICA-CEPA. ANTARA FOTO/Ampelsa/nym.


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah produk Indonesia akan langsung menikmati tarif 0% ke Kanada berkat perjanjian dagang Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) yang diteken pada 24 September 2025. Salah satunya adalah komoditas hasil laut.

Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dani Setiawan menilai penghapusan tarif ekspor merupakan langkah positif, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan produk laut Indonesia masuk ke pasar Kanada.

“Dalam perdagangan internasional, mengeliminasi hambatan tarif memang penting, tetapi negara maju kerap menerapkan hambatan non-tarif yang membatasi penetrasi produk seafood dari Indonesia. Karena itu, negosiasi dagang sebaiknya juga fokus pada hambatan-hambatan non-tarif,” ujar Dani kepada Kontan, Minggu (28/9/2025).

Baca Juga: Produk Udang Indonesia Tersandung Kasus Radioaktif, Eksportir Tuntut Transparansi Uji

Dani menyebut sejumlah produk laut Indonesia yang memiliki peluang besar masuk ke pasar Kanada antara lain tuna, udang, rajungan, dan ikan tilapia. 

Namun, nelayan tradisional masih menghadapi sejumlah tantangan untuk bisa terlibat langsung dalam rantai ekspor.

“Beberapa tantangan diantaranya terkait sertifikasi. Nelayan kecil masih kesulitan mengakses pasar ekspor karena mengurus sertifikat kelayakan produk itu rumit dan biayanya besar,” kata Dani.

Baca Juga: KNTI: Revitalisasi Tambak Harus Sertai Pemberdayaan, Bukan Kuasai Pemodal Besar

Selain itu, Dani mengatakan, akses permodalan dan kemitraan usaha dengan eksportir besar juga masih terbatas bagi nelayan.

Untuk itu, KNTI berharap pemerintah tidak hanya berhenti pada pencapaian tarif 0%, melainkan juga memperkuat basis produksi nelayan kecil. 

“Infrastruktur harus dilengkapi, biaya produksi ditekan agar produk lebih kompetitif, fasilitasi kemitraan dengan eksportir, serta perkuat organisasi ekonomi nelayan,” pungkas Dani.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×