kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

idEA Sebut Tidak Ada Tanda Seller Tinggalkan Marketplace Secara Massal


Jumat, 08 Mei 2026 / 16:27 WIB
idEA Sebut Tidak Ada Tanda Seller Tinggalkan Marketplace Secara Massal
ILUSTRASI. ecommerce, belanja online, online shopping (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Skema ongkos kirim (ongkir) baru di industri e-commerce pada 2026 dinilai menjadi bagian dari penyesuaian model bisnis platform digital menuju keberlanjutan usaha.

Meski memicu keresahan di kalangan penjual atau seller, Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menilai belum ada tanda perpindahan besar-besaran seller keluar dari marketplace.

Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia Budi Primawan mengungkapkan, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan industri e-commerce ditopang berbagai promo dan subsidi, termasuk subsidi ongkir. Kini, platform mulai mencari keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan keberlangsungan usaha jangka panjang.

Baca Juga: Biaya Marketplace Naik, Seller Mulai Lirik Toko Offline & Kanal Penjualan Mandiri

“Menurut kami, penyesuaian skema ongkir dan biaya layanan ini memang bagian dari proses industri e-commerce yang mulai bergerak ke arah yang lebih sustainable,” ujar Budi kepada Kontan, Kamis (8/5/2026).

Budi menerangkan, di balik operasional platform digital terdapat investasi besar pada sektor logistik, teknologi, pembayaran digital, keamanan transaksi, hingga layanan pelanggan.

Meski muncul kekhawatiran seller akan keluar dari marketplace dan membangun kanal penjualan sendiri, idEA menilai kondisi tersebut belum terjadi secara signifikan.

Menurut Budi, sebagian seller memang mulai memperkuat kanal lain seperti media sosial maupun website pribadi, namun strategi omnichannel tersebut sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.

“Seller umumnya tetap melihat marketplace sebagai kanal penting karena di sana ada traffic, sistem pembayaran, logistik, promosi, sampai basis pelanggan yang besar. Jadi lebih ke diversifikasi kanal penjualan, bukan pindah total,” jelasnya.

Baca Juga: Implementasi PP Tunas Perlu Menyeimbangkan Antara Proteksi dan Bisnis

Dari sisi persaingan industri, idEA melihat perubahan skema ongkir justru dapat mendorong industri e-commerce memasuki fase yang lebih matang. Persaingan antarplatform ke depan diperkirakan tidak lagi hanya mengandalkan promo besar-besaran atau subsidi ongkir.

Menurut Budi, kompetisi akan lebih mengarah pada kualitas layanan, pengalaman pengguna, kecepatan pengiriman, serta kemampuan platform membantu seller berkembang secara sehat.

Sementara itu, terkait potensi penurunan transaksi e-commerce nasional, idEA menyebut industri masih terus mencermati perkembangan daya beli masyarakat dan respons pasar. Namun, asosiasi melihat perilaku konsumen kini semakin rasional dan hybrid.

“Konsumen tidak hanya mencari harga murah, tapi juga mempertimbangkan trust, keamanan transaksi, kualitas layanan, dan kepastian pengiriman,” kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×