kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.028.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.814   -85,00   -0,50%
  • IDX 8.396   124,32   1,50%
  • KOMPAS100 1.183   18,77   1,61%
  • LQ45 848   12,48   1,49%
  • ISSI 300   4,67   1,58%
  • IDX30 445   8,19   1,88%
  • IDXHIDIV20 530   8,41   1,61%
  • IDX80 132   1,86   1,43%
  • IDXV30 145   1,60   1,12%
  • IDXQ30 143   2,42   1,73%

Impor Minyak dan Gas dari AS Capai US$ 15 Miliar, Dinilai Menyimpan Risiko


Selasa, 24 Februari 2026 / 06:01 WIB
Diperbarui Selasa, 24 Februari 2026 / 06:03 WIB
Impor Minyak dan Gas dari AS Capai US$ 15 Miliar, Dinilai Menyimpan Risiko
ILUSTRASI. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (KONTAN/Sabrina Rhamadanty).


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Indonesia mengimpor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat senilai sekitar US$ 15 miliar dinilai menyimpan risiko struktural jangka panjang jika tidak dirancang dengan kontrak yang lentur dan tata kelola yang ketat. 

Di tengah upaya menekan defisit energi, kebijakan ini juga berpotensi menjauhkan agenda swasembada bila impor berubah menjadi ketergantungan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan, komitmen pembelian tersebut merupakan bagian dari Perjanjian Perdagangan Timbal Balik Indonesia–Amerika Serikat (AS). 

Nilainya mencakup pembelian BBM olahan sekitar US$ 7 miliar, minyak mentah US$ 4,5 miliar, dan LPG US$ 3,5 miliar. "Prinsipnya keekonomian dan saling menguntungkan. Ini hanya menggeser sumber pasokan, bukan menambah volume impor," ujarnya.

Baca Juga: Impor Migas dari Amerika Serikat Disepakati, Ekonom Ingatkan Risiko Besar

Namun, ekonom Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas mengingatkan, dampak jangka panjang sangat ditentukan oleh desain kontrak. Impor bisa berdampak positif bila sekadar substitusi pemasok dengan kontrak fleksibel, transparan, dan kompetitif. 

"Risiko muncul ketika komitmen berubah menjadi kewajiban kaku. Saat harga global melonjak atau permintaan domestik melemah, impor rigid dapat menekan neraca berjalan dan menaikkan premi risiko ekonomi," katanya.

Pandangan serupa disampaikan Pri Agung Rakhmanto, Founder & Advisor ReforMiner Institute. 

Menurutnya, kesepakatan impor dari AS dapat memperkuat keamanan pasokan, tetapi swasembada energi tidak boleh dimaknai sempit. 

Baca Juga: Indonesia Bersiap Impor Minyak AS: Strategi Baru di Tengah Negosiasi Dagang

"Dalam perdagangan global, impor itu keniscayaan. Yang krusial, impor tidak menggantikan upaya menaikkan produksi domestik," tegasnya.

Intinya, impor migas hanya relevan bila diposisikan sebagai jembatan transisi—bukan tujuan akhir. 

Tanpa kontrak yang adaptif dan komitmen kuat pada peningkatan produksi dalam negeri, kebijakan ini berisiko mengunci ketergantungan dan menggerus arah swasembada energi.

Selanjutnya: Perempuan Wajib Tahu, 4 Olahraga Ini Bisa Buat Puasa Lebih Fit

Menarik Dibaca: Perempuan Wajib Tahu, 4 Olahraga Ini Bisa Buat Puasa Lebih Fit

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×