Reporter: Asnil Bambani Amri |
JAKARTA. Pada semester pertama tahun 2010, industri kosmetik mengaku tidak mencatat adanya pertumbuhan kinerja.
Ketua Perhimpunan dan Asosiasi Kosmetika Indonesia (PPAKI) Putri Kuswisnuwardhani bilang, pertumbuhan industri kosmetika tersebut terhalang oleh tingginya peredaran produk impor.
“Semester pertama ini saja kami mencatat adanya kenaikan impor beberapa produk kosmetik,” kata Putri dan konferensi pers yang dilakukan di kantor Asosiasi Pengusaha Indonesia di Jakarta, Senin (23/8). Menurut Putri, tahun lalu penjualan produk kosmetik dalam dalam negeri mencapai Rp 35 triliun. Namun untuk tahun ini, angka itu diprediksi tidak akan banyak bergerak karena tingginya arus impor.
Beberapa jenis produk kosmetik yang dilaporkan oleh PPAKI tersebut tersebut diantaranya adalah shampo yang membukukan peningkatan 25%, produk perawatan gigi yang naik 32%. Sementara itu, untuk produk jamu juga mengalami hal serupa.
Putri menyebutkan, pasar tahun 2009 lalu mencapai 10 triliun, namun diprediksi tahun ini tidak banyak mencatat peningkatan karena pasarnya sudah digerus produk impor. “Seperti jamu dari serei mengalami kenaikan hampir 200% di semester I tahun 2010 ini,” jelas Putri.
Beberan angka impor tersebut berasal dari data yang dirilis oleh pemerintah. Sementara itu, untuk impor ilegal, Putri hanya bisa memprediksinya.“Melihat kondisi riil di pasar dan peredarannya, yang ilegal mungkin naik 40%,” katanya tanpa menjelaskan angka detail.
Peredaran produk jamu dan kosmetik impor sudah menguasai pasar sekitar 20% dari pangsa pasar semester I 2010. Produk tersebut datang dari Taiwan, Thailand, Korea, Timur Tengah dan Rusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













