kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.185   38,00   0,21%
  • IDX 5.266   -106,96   -1,99%
  • KOMPAS100 682   -13,68   -1,97%
  • LQ45 533   -9,14   -1,69%
  • ISSI 179   -4,42   -2,41%
  • IDX30 300   -4,55   -1,49%
  • IDXHIDIV20 399   -1,83   -0,46%
  • IDX80 79   -1,55   -1,93%
  • IDXV30 111   -0,19   -0,17%
  • IDXQ30 101   -0,86   -0,84%

Indofarma (INAF) Kembangkan Bisnis Natural Medicine, Incar Pasar Ekspor AS dan Eropa


Selasa, 27 Oktober 2026 / 19:58 WIB
Indofarma (INAF) Kembangkan Bisnis Natural Medicine, Incar Pasar Ekspor AS dan Eropa
ILUSTRASI. NULL (KONTAN/Daniel Prabowo)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indofarma Tbk (INAF) menjajaki pengembangan obat berbasis alam atau natural medicine untuk pasar ekspor melalui hilirisasi riset tanaman endemik Indonesia. Pengembangan obat tersebut menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB).

Direktur Utama Indofarma Sahat Sihombing mengatakan INAF berpotensi menjadi manufaktur sekaligus eksportir produk hasil pengolahan tanaman obat. Ini diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas yang selama ini diekspor mentah.

Adapun salah satu bahan alam yang tengah dikaji adalah kratom dari Kalimantan. Sahat menyebut bahan tersebut selama ini dijual mentah sekitar US$ 3,5 per kilogram – US$ 4 per kilogram di pasar ekspor. 

Baca Juga: Jelang Penerapan EUDR, Traaceability Sawit Pekebun Swadaya Jadi Kendala

Menurutnya, pengolahan berbasis teknologi berpotensi meningkatkan nilai kratom hingga 100 kali lipat, bergantung pada kualitas produk. Hilirisasi diharapkan menambah devisa dan menggerakkan ekonomi daerah penghasil.

“Tantangannya bukan hanya menemukan potensi bahan alam, tetapi juga memastikan hasil riset dapat di hilirisasi menjadi produk yang aman, bermutu, berkhasiat, memenuhi ketentuan regulasi, dan memiliki nilai ekonomi bagi Indonesia,” kata Sahat, Selasa (27/10). 

Dalam kerja sama tersebut, Sahat bilang Indofarma akan mengolah hasil penelitian menjadi produk siap ekspor. Pengembangan teknologi melibatkan peneliti ITB dan mitra riset, sedangkan Indofarma menyiapkan proses manufaktur serta perizinan ekspor.

Kerja sama hilirisasi ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Danantara Development Management Fund, Indofarma, ITB, dan PT EBM Saintifik dan Teknologi pada 27 Oktober 2026 di Jakarta. 

Sahat menyampaikan pasar utama yang dibidik dari natural medicine ialah Amerika Serikat dan Eropa. Menurutnya, produk yang dikembangkan tetap harus memenuhi standar keamanan, mutu, serta ketentuan regulasi di negara tujuan ekspor.

Dia berharap dapat memanfaatkan fasilitas pabrik yang sudah dimiliki untuk mendukung produksi, sehingga tidak perlu membangun fasilitas baru. Namun, kebutuhan investasi dan pendanaan modal kerja masih dihitung.

“Dukungan pendanaan modal kerja serta kejelasan regulasi diperlukan untuk merealisasikan pengembangan produk. Kami berharap Indofarma dapat ditugaskan sebagai manufaktur khusus produk natural medicine Indonesia,” jelas Sahat. 

Selain kratom, lanjut Sahat, INDF juga membuka peluang pengembangan tanaman endemik lain, seperti nilam dan kemenyan dari Sumatra. Dia bilang pemilihan bahan baku akan mempertimbangkan potensi nilai tambah serta peluang pasar.

Dalam jangka panjang, INDF membidik pengembangan produk bertahap dari jamu menuju Obat Herbal Terstandar dan fitofarmaka. Sahat bilang pengembangan akan mengikuti persyaratan ilmiah serta proses registrasi yang berlaku.

Baca Juga: NPCT1 Terus Memperkuat Kinerja Operasional Memasuki Periode Satu Dekade

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×