kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Industri mamin tak menyerap seluruh pasokan dari industri pengolah garam, kenapa?


Kamis, 08 Maret 2018 / 21:48 WIB
ILUSTRASI. Pembuatan Garam Gandu Tradisional


Reporter: Abdul Basith | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri makanan dan minuman (mamin) tidak menyerap seluruh pasokan garam dari industri pengolahan garam. Pasalnya, industri mamin mempunyai spesifikasi garam yang dibutuhkan.

"Spesifikasi garam berbeda, industri aneka pangan punya Standar Nasional Indonesia (SNI)," ujar Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi Lukman, Kamis (8/3).

Selama ini pun Adhi bilang industri mamin tidak menerima garam dari seluruh industri pengolah garam. Industri mamin hanya menerima pasokan garam dari 4 sampai 5 industri pengolah garam yang sesuai dengan standar.

Garam lokal dinilai masih belum dapat memenuhi kualitas garam industri mamin. Adhi bilang meski ada pasokan lokal, jumlahnya masih sedikit. "Kalau pasokan lokal ada dari PT Garam, tetapi kecil di bawah 50.000 ton," terang Adhi.

Selain itu, stok garam lokal pun dinilai sedang surut. Sementara musim panen garam dinilai belum mulai.

Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin bilang masa panen garam di Indonesia belum mulai. Panen garam lokal diprediksi tiga  bulan lagi. "Panen paling cepat sekitar akhir bulan 6," ungkap Jakfar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×