kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Industri petrokimia tersandera kurs dollar tinggi


Minggu, 26 Juli 2015 / 18:42 WIB
Industri petrokimia tersandera kurs dollar tinggi


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Bahan baku produksi industri petrokimia yaitu naphta masih 80%-100% impor. Pelaku industri petrokimia merasa terbebani dengan situasi kurs dollar saat ini.

Budi Susanto Sadiman, Wakil Ketua Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) mengatakan, industri petrokimia saat ini masih belum bisa lepas dari bahan baku impor. "Iya ini jadi keprihatinan kami semua, bahwa bahan baku industri petrokimia masih banyak yang impor," ujar Budi pada KONTAN, Minggu (26/7).

Naphta masih banyak diimpor lantaran pasokan naphta di Indonesia masih sedikit. Untuk diketahui, naphta adalah minyak mentah olahan, yang digunakan sebagai bahan baku produksi industri petrokimia. Impor naphta mayoritas berasal dari Timur Tengah. Selain itu ada yang impor dari Singapura, Malaysia dan India.

Dikarenakan masih banyak bergantung dari impor, dengan kondisi nilai tukar kurs dollar yang terus menguat membuat industri petrokimia jadi terbebani. "Iya karena untuk impor volume yang sama, kami jadi harus mengeluarkan dana lebih banyak karena kondisi kurs yang seperti ini," ujar Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×