kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.622.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 18.035   52,00   0,29%
  • IDX 6.186   -10,65   -0,17%
  • KOMPAS100 807   -4,25   -0,52%
  • LQ45 613   -2,23   -0,36%
  • ISSI 214   -0,32   -0,15%
  • IDX30 345   -1,11   -0,32%
  • IDXHIDIV20 427   -1,32   -0,31%
  • IDX80 92   -0,44   -0,48%
  • IDXV30 116   -0,47   -0,40%
  • IDXQ30 110   -0,53   -0,47%

Industri petrokimia tersandera kurs dollar tinggi


Minggu, 26 Juli 2015 / 18:42 WIB


Reporter: Benediktus Krisna Yogatama | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Bahan baku produksi industri petrokimia yaitu naphta masih 80%-100% impor. Pelaku industri petrokimia merasa terbebani dengan situasi kurs dollar saat ini.

Budi Susanto Sadiman, Wakil Ketua Asosiasi Industri Aromatik, Olefin dan Plastik (Inaplas) mengatakan, industri petrokimia saat ini masih belum bisa lepas dari bahan baku impor. "Iya ini jadi keprihatinan kami semua, bahwa bahan baku industri petrokimia masih banyak yang impor," ujar Budi pada KONTAN, Minggu (26/7).

Naphta masih banyak diimpor lantaran pasokan naphta di Indonesia masih sedikit. Untuk diketahui, naphta adalah minyak mentah olahan, yang digunakan sebagai bahan baku produksi industri petrokimia. Impor naphta mayoritas berasal dari Timur Tengah. Selain itu ada yang impor dari Singapura, Malaysia dan India.

Dikarenakan masih banyak bergantung dari impor, dengan kondisi nilai tukar kurs dollar yang terus menguat membuat industri petrokimia jadi terbebani. "Iya karena untuk impor volume yang sama, kami jadi harus mengeluarkan dana lebih banyak karena kondisi kurs yang seperti ini," ujar Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×