kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.893.000   30.000   1,05%
  • USD/IDR 17.157   13,00   0,08%
  • IDX 7.624   -52,36   -0,68%
  • KOMPAS100 1.056   -6,56   -0,62%
  • LQ45 760   -4,37   -0,57%
  • ISSI 277   0,16   0,06%
  • IDX30 404   -2,51   -0,62%
  • IDXHIDIV20 489   -2,28   -0,46%
  • IDX80 118   -0,60   -0,51%
  • IDXV30 138   1,46   1,07%
  • IDXQ30 129   -0,80   -0,62%

Industri Properti Terdampak Peningkatan Harga Bahan Baku Bangunan


Rabu, 15 April 2026 / 19:04 WIB
Industri Properti Terdampak Peningkatan Harga Bahan Baku Bangunan
ILUSTRASI. Kredit Properti (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Sabrina Rhamadanty | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri properti terdampak pada kenaikan harga bahan baku khususnya semen dan besi baja. Sebelumnya dalam catatan Kontan, Ketua Pengawas Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi), Christian Kartawijaya, mengungkapkan bahwa kondisi saat ini memaksa pelaku industri melakukan penyesuaian, termasuk pada harga jual produk akhir semen ke konsumen.

"Ya, jadi saat ini kami sendiri mau nggak mau sudah mulai naik. Jadi sudah mulai naik karena ongkos semua naik banget," ujarnya di Jakarta, Selasa (14/03/2026).

Industri juga harus menghadapi tekanan tambahan dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, yang berdampak pada komponen biaya produksi.

"Jadi di kita ya, Indocement, naik kurang lebih sekitar 1.500 sampai 2.000 per bag 50 kilo," kata Christian yang juga Presiden Direktur Indocement Tbk (INTP) ini.

Di sisi lain, harga besi baja menurut data IISIA (Indonesian Iron and Steel Industry Association) perubahan harga yang cukup dinamis terjadi dibandingkan awal tahun, dipicu oleh fluktuasi harga energi global di kuartal pertama.

Baca Juga: Harga Material Bangunan Berpotensi Melonjak, Pengembang Properti Wait and See

Dalam catatan global, pasar baja global sepanjang Maret menunjukkan tren penguatan harga yang didorong oleh gangguan logistik, kenaikan biaya bahan baku, dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga billet naik di berbagai pasar regional, terutama di kawasan Teluk akibat terganggunya pasokan dari Iran dan meningkatnya biaya pengiriman. Di Turki dan Tiongkok, kenaikan harga juga ditopang oleh penguatan pasar scrap, kenaikan biaya energi, serta permintaan yang tetap aktif. 

Terkait hal ini, Real Estat Indonesia (REI) menyebut bahwa untuk pembangunan konstruksi memang sensitif terhadap peningkatan biaya bahan baku yang mayoritas dipengaruhi oleh adanya kenaikan biaya transportasi, sehingga adanya krisis bahan bakar akibat gejolak geopolitik di Timur Tengah akan langsung berpengaruh pada biaya konstruksi.

“Ujung-ujungnya harga properti juga terkerek naik,” ungkap Wakil Ketua Umum DPP REI, Bambang Ekajaya kepada Kontan, Rabu (15/04/2026).

Bambang menambahkan, semua bulding material berat-berat tonasenya, misal, semen 1 sak beratnya mencapai 50 kg, lalu besi-beton per batang dari puluhan sampai dengan ratusan kilo per batangnya. Sehingga biaya transportasi bisa mencapai 30 persen dari harga material.

“Dan saat ini material sudah mulai naik. Tapi masih terkendali, dan semoga kebijakan menahan harga bbm bisa terus dilajukan, hanya memang berapa kuat pemerintah mengendalikan kenaikan harga minyak dunia ini,” tambahnya.

Baca Juga: Apersi Dorong Regulasi Rusun Subsidi Lebih Memudahkan Pengembang

Lebih detail, Bambang bilang bahwa kenaikan harga material bangunan akan sangat berpengaruh terhadap harga properti. Contohnya, untuk landed house mengambil peran antara 20% sd 30%.

“Jadi akan lebih besar pengaruhnya untuk high rise building, bisa 50% sd 60 % karena itu kebijakan pemerintah untuk tidak menaikan harga solar subsidi sudah tepat. Kami melihat, efek utamanya akan sangat terasa di high rise building, cost naik signifikan, sementara daya beli merosot dan minat pembelian properti juga menurun. Tapi saya berharap penurunan hanya 10% sampai dengan 20%,” jelasnya.

Senada, CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda mengatakan semen dan baja berpengaruh hampir 30% dari biaya pembangunan rumah tapak di Indonesia.

Meski begitu, untuk tahun ini Ali menyebut pembangunan setidaknya hingga habis kuartal pertama tahun ini, belum terlalu berpengaruh karena masih menggunakan kontrak lama dengan kontraktor meskipun mungkin ada sedikit penyesuaian.

“Namun untuk kontrak pembangunan baru, mulai banyak pengembang yang menjadwal ulang sambil menunggu perkembangan,” katanya.

Baca Juga: Hitung-hitungan Rusun Masih Beri Margin Tipis, REI Minta Aturan Diperjelas

Para pengembang menurutnya juga masih menunggu efek positif dari kelanjutan insentif PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100% untuk pembelian properti (rumah tapak/apartemen) diperpanjang hingga 31 Desember 2027.

Di mana, kebijakan ini berlaku untuk pembelian rumah dengan harga jual maksimal Rp5 miliar, dengan PPN yang ditanggung pemerintah maksimal Rp2 miliar.

“PPNDTP salah satu yang sangat mendorong kebijakan ekspansi bisnis properti, namun para pengembang jadinya lebih memprioritaskan rumah stoknya dibandingkan bangun baru dalam kondisi saat ini,” ungkapnya.

“Pada Q1-2026 khususnya wilayah Banten terjadi penurunan 21%, namun secara keseluruhan diperkirakan baru semester 2 pasar akan meningkat dan tergantung juga dengan kondisi geopolitik dan perang saat ini,” tutupnya. 

Baca Juga: Harga Semen dan Besi Berpotensi Naik, Begini Dampaknya Bagi Industri Properti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×