Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) bekerja sama dengan ECV International akan menyelenggarakan Indonesia Footwear Summit 2026 pada 13-15 April 2026 di Kemayoran, Jakarta.
Gelaran internasional ini akan mempertemukan perwakilan merek global, produsen alas kaki, pemasok bahan baku dan teknologi, asosiasi industri, konsultan global, serta investor dan pelaku rantai pasok internasional yang memiliki kepentingan strategis terhadap perkembangan industri sepatu dunia.
Oleh karena itu, Ketua Dewan Pembina Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan bahwa agenda ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara sourcing dan pusat produksi alas kaki global.
Baca Juga: Bahlil: Penyesuaian Harga BBM Non-Subsidi Masih dalam Perhitungan dengan Badan Usaha
"Melalui penyelenggaraan Indonesia Footwear Summit 2026, kami bersama ECV International berharap dapat memperkuat kolaborasi antara pelaku industri nasional dengan mitra internasional, mendorong peningkatan investasi, hingga memperluas peluang perdagangan," katanya dalam keterangan yang diterima Kontan, Kamis (9/4/2026).
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, para peserta juga akan mengikuti kunjungan industri ke fasilitas produksi PT Aggiomultimex International Group guna melihat secara langsung proses produksi, kapasitas manufaktur, serta ekosistem industri alas kaki dalam negeri.
Ketua Umum Aprisindo, Anton J. Supit menyampaikan, industri alas kaki dalam beberapa tahun terakhir terus bertumbuh dari sisi ekspor.
Berdasarkan data yang dihimpun Aprisindo, nilai ekspor alas kaki Indonesia pada tahun 2025 tercatat mencapai sekitar US$ 7,98 miliar, meningkat sekitar 9,54% dibandingkan tahun 2024. Secara kumulatif, sejak tahun 2020 hingga 2025 ekspor alas kaki Indonesia meningkat lebih dari 65%.
Anton menambahkan, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara eksportir alas kaki terbesar ketiga di dunia, dengan volume ekspor mencapai sekitar 601 juta pasang.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan alas kaki Indonesia telah menjadi bagian penting dari rantai pasok industri alas kaki global, serta meningkatnya kepercayaan pasar internasional terhadap produk alas kaki Indonesia.
Baca Juga: Harga Solar Naik, Periklindo: Penambang Bergeser ke Truk Listrik
Anton menjelaskan, pasar utama ekspor alas kaki Indonesia masih didominasi oleh Amerika Serikat (AS) yang menyerap sekitar 30% dari total ekspor nasional dengan nilai ekspor pada 2025 mencapai sekitar US$ 2,8 miliar. Sementara itu, kawasan Uni Eropa menjadi pasar strategis kedua dengan nilai ekspor US$ 1,76 miliar, disusul China sebanyak US$ 504 juta, serta 132 negara lainnya yang menjadi pasar ekspor alas kaki Indonesia.
"Dinamika geopolitik perdagangan global, termasuk kebijakan tarif perdagangan di AS, turut memengaruhi perubahan struktur rantai pasok industri alas kaki dunia. Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai salah satu basis produksi utama bagi berbagai merek global," jelas Anton.
Di sisi lain, ia menilai peluang ekspansi pasar ekspor Indonesia juga semakin terbuka melalui proses perundingan Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Di mana, perjanjian ini diharapkan dapat memberikan akses pasar yang lebih luas bagi produk alas kaki Indonesia melalui penurunan maupun penghapusan tarif masuk ke pasar Eropa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- Ekspor Alas Kaki Indonesia
- APRISINDO
- Industri sepatu Indonesia
- Indonesia Footwear Summit 2026
- ECV International
- Pusat produksi alas kaki global
- Investasi industri sepatu
- Perdagangan alas kaki internasional
- Ekspor sepatu US
- Ekspor sepatu Uni Eropa
- IEU-CEPA alas kaki
- Rantai pasok alas kaki
- Peluang bisnis sepatu
- Pertumbuhan ekspor alas kaki













