kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.978   18,00   0,11%
  • IDX 7.321   -264,62   -3,49%
  • KOMPAS100 1.020   -39,96   -3,77%
  • LQ45 749   -27,08   -3,49%
  • ISSI 256   -10,71   -4,01%
  • IDX30 396   -14,53   -3,54%
  • IDXHIDIV20 491   -15,97   -3,15%
  • IDX80 115   -4,31   -3,63%
  • IDXV30 133   -4,52   -3,29%
  • IDXQ30 128   -4,76   -3,59%

Ini Upaya Kemenperin-HIMKI Mendongkrak Posisi Indonesia Jadi Hub Manufaktur Furnitur


Senin, 09 Maret 2026 / 08:54 WIB
Ini Upaya Kemenperin-HIMKI Mendongkrak Posisi Indonesia Jadi Hub Manufaktur Furnitur


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) berupaya mengungkit posisi Indonesia sebagai hub manufaktur furnitur global. Di samping mengoptimalkan potensi ekspor, industri furnitur merupakan sektor padat karya yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang bersifat padat karya, mampu menciptakan nilai tambah, serta memberikan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Sektor ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya diestimasikan mencapai lebih dari US$ 736,21 miliar. 

"Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan,” ungkap Agus dalam keterangan resmi yang disiarkan pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Industri Sawit Tekankan Peran Strategis, Nilai Ekonomi Hilir Capai Rp750 Triliun

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menambahkan, industri furnitur merupakan sektor manufaktur strategis (strategic manufacturing sector) yang menjadi pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam. “Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan,” kata Putu.

Meski begitu, sektor industri furnitur dalam negeri masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah penurunan ekspor sebesar 3% pada tahun 2025 menjadi US$ 1,85 Miliar serta kenaikan impor sebesar 6% menjadi US$ 0,82 Miliar. Tantangan lainnya berasal dari geopolitik yang menghambat logistik serta regulasi lingkungan global seperti European Union Deforestation Regulation (EUDR).

Menghadapi tantangan tersebut, pemerintah tetap optimistis melakukan penguatan struktur industri nasional melalui modernisasi mesin dan peningkatan daya saing. Langkah ini dinilai menjadi kunci untuk merebut kembali pasar domestik yang saat ini menyerap 78,39% output manufaktur nasional, sekaligus memperluas penetrasi ekspor.

Dari sisi sertifikasi, Indonesia telah memiliki modal kuat melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) agar produk furnitur nasional tetap responsible dan sustainable. Kemenperin juga berkomitmen untuk meningkatkan produktivitas.

Salah satunya melalui Program Restrukturisasi Mesin/Peralatan Industri Pengolahan Kayu. Hingga saat ini, program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan dengan total nilai reimburse mencapai Rp 26,1 Miliar. Dampaknya terhadap efisiensi proses sekitar 10,70%, peningkatan mutu produk sekitar 36,28%, serta lonjakan produktivitas mencapai 32,65%.

Baca Juga: Strategi HIMKI Optimalkan Ekspor Furnitur di Tengah Konflik Timur Tengah

Sebagai langkah strategis ke depan, Kemenperin tetap fokus pada lima pilar fasilitasi: ketersediaan bahan baku, Sumber Daya Manusia (SDM) terampil, riset pasar, peningkatan kapasitas produksi, serta penciptaan iklim usaha melalui insentif fiskal seperti tax allowance dan tax holiday.

Momentum IFEX 2026 

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur menyambut kolaborasi dengan Kemenperin, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan fasilitasi teknologi. Salah satu upaya memperkuat industri dan memperluas pasar furnitur nasional dilakukan melalui penyelenggaraan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026.

"Melalui ajang IFEX 2026, HIMKI berkomitmen terus mendorong inovasi desain dan penggunaan material ramah lingkungan. Sinergi ini penting agar produk anggota kami tidak hanya kuat di pasar domestik, namun juga mampu bersaing secara adil di kancah internasional sebagai produk yang berkualitas dan berkelanjutan," ungkap Abdul.

IFEX telah terselenggara pada 5 – 8 Maret 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Agenda yang diselenggarakan oleh HIMKI dan Dyandra Promosindo telah berkembang dari sebuah pameran dagang menjadi platform global yang menghubungkan produsen furnitur Indonesia dengan buyers internasional.

Dengan luasan mencapai sekitar 85.000 meter persegi, IFEX kini menjadi salah satu pameran furnitur terbesar di kawasan Asia Tenggara. Ekspansi skala ini bukan sekadar soal ukuran pameran, tetapi mencerminkan meningkatnya kepercayaan industri dan pasar internasional terhadap kemampuan Indonesia sebagai salah satu sumber penting furnitur dan kerajinan dunia.

HIMKI menilai strategi mendatangkan buyers dunia ke Indonesia melalui pameran berskala internasional merupakan pendekatan yang terbukti efektif. Banyak negara yang berhasil memperkuat industrinya melalui platform perdagangan global seperti ini.

Contohnya Vietnam, yang berhasil meningkatkan ekspor furniturnya hingga lebih dari tujuh kali lipat dalam dua dekade terakhir. Tidak hanya karena kekuatan industrinya, tetapi juga karena dukungan kebijakan pemerintah yang konsisten dalam promosi perdagangan, investasi industri, dan penguatan rantai pasok.

Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah besar. Basis industri yang luas, kekayaan desain yang berakar pada budaya, serta meningkatnya kesadaran global terhadap produk berkelanjutan memberikan peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan ekspor furnitur.

Dalam konteks tersebut, IFEX memiliki peran strategis sebagai jembatan antara potensi industri nasional dengan pasar global. Platform ini membuka kesempatan bagi produsen dari berbagai daerah di Indonesia untuk bertemu langsung dengan buyers internasional, membangun jaringan bisnis baru, serta memperluas akses pasar.

Apabila platform seperti IFEX terus diperkuat melalui kolaborasi antara industri, pemerintah, dan pelaku perdagangan internasional, Indonesia memiliki peluang nyata untuk meningkatkan kontribusinya dalam pasar furnitur dunia.

Pasar global saat ini semakin mencari produk yang berkualitas serta memiliki keunikan desain, keberlanjutan material, dan cerita budaya di baliknya. Indonesia memiliki semua unsur tersebut. "Oleh karena itu, IFEX bukan sekadar pameran tahunan, tapi juga merupakan momentum penting bagi Indonesia untuk menegaskan diri sebagai salah satu kekuatan baru dalam industri furnitur dunia," ungkap keterangan yang dirilis HIMKI pada akhir pekan lalu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×