kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.501.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.700   0,00   0,00%
  • IDX 8.647   2,68   0,03%
  • KOMPAS100 1.194   -2,61   -0,22%
  • LQ45 847   -5,47   -0,64%
  • ISSI 309   -0,04   -0,01%
  • IDX30 437   -2,15   -0,49%
  • IDXHIDIV20 510   -4,16   -0,81%
  • IDX80 133   -0,62   -0,47%
  • IDXV30 139   0,36   0,26%
  • IDXQ30 140   -0,77   -0,54%

Kemenperin Targetkan Industri Manufaktur Tumbuh 5,51% pada 2026


Kamis, 01 Januari 2026 / 08:42 WIB
Kemenperin Targetkan Industri Manufaktur Tumbuh 5,51% pada 2026
ILUSTRASI. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti sejumlah tantangan dari faktor domestik dan eksternal yang mengganjal industri manufaktur pada tahun 2025.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut sejumlah tantangan yang membayangi industri manufaktur sepanjang tahun 2025. Kemenperin pun telah memetakan outlook industri manufaktur untuk mencapai pertumbuhan 5,51% pada 2026.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti sejumlah tantangan dari faktor domestik dan eksternal yang mengganjal industri manufaktur pada tahun 2025. Pertama, banjir produk impor yang dilakukan secara legal maupun ilegal.

Kedua, ketersediaan gas industri sesuai dengan kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) sebesar US$ 7 per Million British Thermal Unit (MMBTU). Ketiga, ketersediaan bahan baku bagi industri.

Baca Juga: Kemenperin dan Kemenlu Kerjasama Dorong Investasi dan Ekspor RI

Menurut Agus, tiga kendala utama itu masih akan membayangi industri manufaktur pada tahun 2026. Hanya saja, Agus optimistis bakal ada perbaikan, terutama karena adanya upaya pembenahan tata niaga impor yang aktif dilakukan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Kami melihat komitmen Kemenkeu besar dalam membenahi pintu-pintu masuk bagi barang luar negeri ke Indonesia, karena impor yang legal saja sudah membuat manufaktur sulit, apalagi yang ilegal melalui jalur-jalur tikus," kata Agus dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (31/12/2026).

Kemenperin belum memaparkan kinerja setahun penuh (full year) 2025, karena data kuartal keempat masih diolah. Merujuk data hingga kuartal III-2025, pertumbuhan sektor manufaktur atau Industri Pengolahan Non Migas (IPNM) tercatat sebesar 5,17%, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebanyak 17,27%.

Kontribusi ke PDB

Memasuki tahun baru, Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza memaparkan bahwa target pertumbuhan industri manufaktur pada 2026 mencapai 5,51%. Dengan estimasi tersebut, Kemenperin menargetkan kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB nasional naik menjadi 18,56%.

Kinerja sektor manufaktur akan ditopang oleh 15 sub sektor industri yang ditargetkan bisa mencapai pertumbuhan di atas 1,5%. Industri logam dasar diproyeksikan mencapai pertumbuhan paling tinggi sebesar 14% pada tahun 2026.

Selain itu, Kemenperin memproyeksikan ada empat sub sektor lain yang bisa tumbuh di atas 5%. Meliputi Industri Pengolahan Lainnya: Jasa Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan (+6,45%), Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional (+6,26%), Industri Makanan dan Minuman (+6,06%), Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki (+5,19%).

Baca Juga: Penjualan Mobil di 2025 Turun, Kemenperin Ajukan Usulan Insentif ke Kemenkeu

Faisol melanjutkan, Kemenperin menargetkan kontribusi ekspor produk manufaktur terhadap total ekspor nasional mencapai 74,85%. Sementara itu, persentase nilai tambah industri pengolahan di luar Jawa ditargetkan mencapai 33,25%.

Peluang Investasi di Kawasan Industri

Dari sisi nilai investasi, Kemenperin membidik Rp 852,90 triliun akan mengucur ke sektor manufaktur pada tahun 2026. Salah satu peluang untuk menarik investasi berada di kawasan industri.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Tri Supondy mengungkapkan saat ini Indonesia memiliki 175 kawasan industri. Total kawasan industri tersebut menampung realisasi investasi senilai Rp 6.744,58 triliun pada tahun 2025.

Realisasi investasi di kawasan industri naik 9,26% dibandingkan tahun 2024. Hal ini sejalan dengan penambahan sembilan kawasan industri pada 2025, serta kenaikan jumlah tenant di kawasan industri yang naik 1,12% menjadi 11.970 perusahaan.

Tri meyakini investasi di kawasan industri akan lanjut tumbuh pada tahun ini. Menurut Tri, potensi pertumbuhan merata di sejumlah sektor, termasuk yang terkait dengan pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) dan teknologi tinggi (high-tech).

"Kawasan industri saya meyakini masih meningkat, mengingat proyeksi realisasi investasi juga meningkat. Saya kira akan merata, baik berkaitan dengan pengolahan SDA, dan tentu juga high-tech yang mungkin akan fokus di daerah Jawa Barat," terang Tri.

Baca Juga: Kemenperin Rilis Roadmap Hilirisasi Silika, Begini Potensi Pengembangan Industrinya

Menperin menambahkan, pengembangan kawasan industri menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) akan mempertimbangkan tematik yang selaras dengan fokus pemerintah. Terutama yang terkait program ketahanan energi, ketahanan pangan dan kemandirian di bidang kesehatan.

Agus mencontohkan, Kemenperin telah menerima proposal investasi dari salah satu grup bisnis besar di bidang kesehatan. Grup bisnis tersebut tertarik untuk membangun kawasan bio-town. "Diharapkan akan memperkuat kemampuan Indonesia memproduksi obat-obatan dan alat kesehatan. Menariknya, obat-obatan itu nanti akan berbasis sumber daya berbasis herbal yang dihasilkan Indonesia," tandas Agus.

Selanjutnya: Promo Alfamart Tahun Baru 2026, Es Krim Hingga Sosis Beli 1 Gratis 1

Menarik Dibaca: Rekomendasi HP Terbaik yang Rilis di Tahun 2026, Cari Tahu Detailnya di Sini

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×