Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - TANGERANG. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) telah melirik pasar ekspor furnitur ke emerging market seperti Timur Tengah. Namun, konflik yang kini terjadi di kawasan tersebut menahan wacana tersebut.
Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan, pihaknya telah mengupayakan untuk memasuki pasar Timur Tengah sebagai pasar alternatif.
“Tetapi mungkin dalam keadaan perang ini, (ekspor) belum memungkinkan. Meskipun begitu, kami optimistis Indonesia menjanjikan yang paling stabil dalam situasi saat ini,” ujar Sobur dalam gelaran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Bahlil: Investor Sudah Siap Bangun Storage Minyak 90 Hari di Sumatra
Meskipun begitu, HIMKI tetap mengoptimalkan diversifikasi pasar ekspor. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika mengatakan bahwa saat ini, pemerintah dan pelaku usaha tengah intens berupaya menjual produk furnitur Indonesia ke India dan wilayah Afrika.
“Sebenarnya Timur Tengah itu salah satu tujuan kita, tapi dengan geopolitik saat ini, kami masih mengupayakan India terlebih dahulu,” jelas Putu.
Lebih lanjut, Putu mengatakan pemerintah dan pelaku usaha telah sepakat berfokus pada pengembangan produk furnitur dengan pertimbangan nilai tambah, baik dari desain, fitur tambahan, dan lainnya.
“Jadi kita mengupayakan agar ekspor furnitur kita tidak hanya berbasis pada volume, tetapi juga pada nilai tambah,” imbuhnya.
Sobur menambahkan, HIMKI menyadari industri furnitur Indonesia belum berada di posisi yang sama dengan China dan Vietnam.
“Kalau kita melawan mereka dengan industrialisasi sepertinya agak sulit. Karena kita harus meniru pola mereka, di mana regulasi sudah tidak lagi menjadi masalah pokok,” jelas Sobur.
Oleh karena itu, gelaran IFEX 2026 kata Sobur merupakan upaya mengoptimalkan kualitas produk furnitur Indonesia yang diekspor.
Dalam perhelatan ini para pelaku usaha turut menggandeng sejumlah desainer internasional, salah satunya dari Spanyol. Dengan begitu, menurut Sobur, Indonesia dapat belajar dari para desainer top global untuk mengerek nilai tambah produk furnitur domestik.
“Kami optimistis industri ini akan tumbuh menjadi industri yang mapan dan bisa memperluas lapangan kerja. Sekarang ini ada 2,1 juta tenaga kerja. Kalau ekosistem kita meningkat, bisa ada sekitar 2,4 juta tenaga kerja yang terserap di industri ini,” tandas Sobur.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Berpotensi Makin Menekan Pasar Properti Tanah Air
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













