kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.940.000   20.000   0,68%
  • USD/IDR 16.808   -72,00   -0,43%
  • IDX 8.032   96,61   1,22%
  • KOMPAS100 1.132   15,02   1,34%
  • LQ45 821   5,36   0,66%
  • ISSI 284   5,77   2,08%
  • IDX30 427   0,41   0,10%
  • IDXHIDIV20 513   -1,95   -0,38%
  • IDX80 127   1,53   1,22%
  • IDXV30 139   0,46   0,33%
  • IDXQ30 139   -0,29   -0,21%

Insentif kecil picu petani enggan tanam tebu


Kamis, 02 Agustus 2018 / 20:15 WIB
Insentif kecil picu petani enggan tanam tebu
ILUSTRASI. HARGA ACUAN GULA PETANI RENDAH


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kecilnya insentif yang didapatkan petani dalam beberapa waktu terakhir dianggap sebagai penyebab mengapa petani enggan menanam tebu.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Agus Pakpahan mengatakan insentif yang kecil tersebut disebabkan harga jual gula yang lebih rendah dibandingkan biaya produksi.

Saat ini, harga acuan pembelian gula di tingkat petani yang ditetapkan dalam Permendag No 58 2018 sebesar 9.100 per kilogram (kg), sementara biaya produksi gula yang harus dikeluarkan petani per kg-nya sebesar Rp 10.500.

"Tahun 2006 margin pemasaran yang diterima petani itu sekitar 80%, sekarang kecil sekali.," ujar Agus, Kamis (2/8).

Agus mengatakan, sejak 2008 tren produksi gula terus mengalami penurunan. Dia memperkirakan, produksi tahun ini pun tidak akan jauh berbeda dengan produksi tahun lalu, bahkan bisa turun dari tahun sebelumnya. Terlebih, produksi gula masih sangat tergantung pada petani.

AGI pun mengusulkan supaya harga gula di tingkat konsumen meningkat dari harga saat ini. Dengan begitu, harga di tingkat petani turut meningkat. "Idealnya, harga gula yang layak itu 1,6 kali harga beras, atau sekitar Rp 15.000 di tingkat konsumen," tambah Agus.

Menurut Agus, sampai saat ini belum ada data kebutuhan gula konsumsi yang akurat. Namun, angka yang biasa dipakai kurang dari 3 juta ton. Melihat kebutuhan yang besar ini, Agus pun berpendapat bahwa impor gula dibutuhkan. "Tapi impor harus terkendali," ujarnya.

Saat ini, pemerintah memang tengah menghitung ulang neraca gula nasional. Agus mengatakan, pihaknya memang menyarankan supaya penghitungan ulang ini dilakukan. Tak hanya menghitung konsumsi gula namun juga menghitung ulang konsumsi gula yang sehat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×